Masa keci Asri dijalaninya dengan kehidupan yang keras dan memprihatinkan. Pasalnya, ia tinggal di sebuah rumah yang hanya bisa dilalui oleh sebuah sepeda motor.
Kedua orang tuanya yang bertemu di Lampung memutuskan mengadu nasib di Jakarta. Ayahnya bekerja di pelayaran, sedangkan ibunya di bidang peti kemas.
"Nyokap bokap gua semua dari Lampung, kemudian mengadu nasib di Jakarta. Karena bokap gua pelayaran, nyokap kerja di ekspor impor peti kemas, jadi lahannya cuma di Tanjung Priok," ujar perempuan kelahiran 7 Maret 1979 itu.
Ia mengenang dengan haru masa kecilnya yang penuh kesulitan. Apalagi dengan kondisi hunian yang sempit dan kerap dikepung banjir.
Dengan nada bercanda sambil menitikkan air mata, Asri menyebut dirinya punya kolam renang di depan rumahnya.
"Setiap sore, gua punya kolam renang. Karena kita rumah lantai 2, lantai 1 setiap sore masuk air, banjir. Karena kena itu, kena rob. Air pasang, 50 meter dari laut," kata Asri.
Meskipun menangis haru saat mengingat masa-masa sulit itu, ia mengingatnya dengan tawa, apalagi kawasan Tanjung Priok masa itu dikenal mengalami banyak musibah, dari kebakaran hingga kemalingan.
"Maksudnya dulu tinggal di gang itu. Maksudnya gue jadi ketawa, gue sekarang aja masih nangis ingat cerita, sering banget berita-berita di Tanjung Priok, isinya kalau nggak kebakaran, kemalingan," ujarnya.
Bahkan, Asri masih ingat saat usia sekitar 3 tahun harus kerap menyelamatkan barang-barang dari rumah agar tidak terkena kebakaran.
"Umur 2-3 tahun, setiap kebakaran ngeluarin barang dari rumah. Dalam sebulan, ada 15 kali kebakaran rumah di daerah situ," kata Asri.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!