“Menyelamatkan kemanusiaan perempuan dengan menikah dan memberikan hak yan gpantas dalam pernikahan, pada abad tersebut sudah pencapaian revolisoner,” tulis Kalis lagi.
Selanjutnya, pada tahun 1800-an, masa di mana Cut Nyak Dien hidup, kebutuhan manusia saat itu adalah bagaimana caranya merdeka dari penjajaan kulit putih lewat perang bersenjata.
Kalis juga menambahkan, pada tahun 1921, perlawanan terhadap perkawinan usia anak sudah mulai diorganisir oleh kaum ibu dan istri pada zaman tersebut.
Kalis pun mengingatkan Bunda Aliyya bahwa saat ini yang seharusnya menjadi fokus utama adalah bagaimana memikirkan kesehatan seksual dan reproduksi, hubungan yang sehat serta kesehatan mental.
Ia bahkan mengungkapkan pernyataan menohok bagi Bunda Aliyya.
“Mungkin kalendernya bisa diganti bu, jadi nggaj jauh banget bayangin hidup di abad ke-6, tahun 1800an, dan tahun 1921” tulisnya lagi.
Selain mengungkapkan argumennya tentang pernkahan dini, Bunda Aliyya juga sempat menantang publik yang menyoroti pernikahan anaknya juga menyebut nama-nama sosok wanita di atas.
Bahkan ia juga juga menilai publik terutama netizen yang memperbincangkan pernikahan putrinya tersebut sebagai Sumber Daya Manusia (SDM) rendah.
“Salah satu tanda kalian bagian dari SDM rendahan adalah kalian simbuk mempersoalkan hal receh yang tidak mempengaruhi kehidupan kalian,” tulisnya lagi.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!