SketsaNusantara.id - Media sosial saat ini dipenuhi oleh sumpah serapah Lolly serta juga ibunya Nikita Mirzani, berikut pendapat mantan komisioner KPAI.
Sebagian orang mendukung sikap Nikita Mirzani dengan menjemput paksa anaknya, ada pula yang menyalahkan bahwa apa yang dilakukan oleh Lolly saat ini merupakan hasil didikan dari ibunya sendiri.
Lalu bagaimana pendapat dari mantan komisioner KPAI (Komisi Perlindungan Anak dan Ibu), Erlinda menjabarkan secara jelas bagaimana psikologi seorang remaja seperti Lolly yang kini menginjak usia 17 tahun.
"Perkembangan otak manusia saat berusia 17 tahun yang masuk pada kategori remaja," tegas Erlinda dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube Intens Investigasi.
"Kategori remaja itu belum sempurna di syarat-syarat otaknya, termasuk pada bagian yang namanya pre frontal cortex yang berfungsi sebagai pengambilan keputusan, pengendalian diri dan berpikir rasional dalam mengambil keputusan benar atau tidak," tambahnya.
Menurut Erlinda, saat pengambilan keputusan pada usia remaja seperti Lolly masih dipengaruhi banyak hal dan baru akan bsia mengambil sikap yang tepat pada usia sudah dewasa.
Sebab itulah pada saat kejadian penjemputan atau jauh sebelum itu ia terlihat agresif, histeris serta emosional saat merespon.
"Ini bisa dipengaruhi pula oleh faktor pola asuh rumah itu sendiri," tambah Erlinda kagi terkait sikap Lolly.
Erlinda menjelaskan bahwa ketegangan antara Lolly dan Nikita selama ini bisa menjadi penyebab Lolly bersikap histeris dan cenderung menyalahkan ibundanya.
Faktor selanjutnya adalah adanya tekanan serta ujaran kebencian netizen yang didapatkan Lolly saat ini sehingga hal itu sangat berpengaruh pada keseimbangan psikologinya.
Hal ini disebabkan karena belum ada keseimbangan psikologis apalagi ada rasa ketakutan dengan apa yang akan terjadi pada dirinya di masa depan berdasarkan tekanan yang diterimanya.