SketsaNusantara.id - Di tengah polemik yang menyeret nama salah satu alumni penerima beasiswa (awardee) Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), publik turut menyoroti unggahan terbaru Tasya Kamila.
Belum lama ini, unggahan salah satu awardee LPDP bernama Dwi Sasetyaningtyas (DS) menuai kritik keras karena perkataannya dianggap merendahkan identitas sebagai WNI (Warga Negara Indonesia).
Publik juga memprotes suami DS, Arya Iwantoro (AP) yang tidak menunaikan kewajiban masa bakti 2N+1 yang dianggap melanggar kontrak LPDP.
Usai unggahannya viral, suami DS akhirnya dikenakan sanksi tegas dan diminta mengembalikan seluruh dana beasiswa yang berasal dari uang pajak dan utang negara.
Tak hanya DS dan AP, sejumlah warganet juga turut mempertanyakan kontribusi Tasya Kamila yang juga diketahui merupakan salah satu alumni penerima beasiswa LPDP.
Keputusannya untuk langsung menikah setelah lulus juga ramai disorot hingga jadi perbincangan hangat di media sosial.
Menjawab rasa penasaran publik, Tasya akhirnya membagikan laporan kontribusi masa bakti sebagai alumni awardee LPDP.
Melalui akun Instagram pribadinya, mantan penyanyi cilik itu memahami rasa ingin tahu masyarakat lantaran dana LPDP sebagian berasal dari pajak yang notabene juga merupakan uang rakyat.
"Buatku, kalian berhak bertanya soal ini. Sebagai sesama rakyat yang membayar pajak, aku sangat mengerti bahwa teman-teman mau 'investasi' kita semua melalui APBN dalam bidang pendidikan dan pemberdayaan SDM menghasilkan output yang baik buat bangsa," tulisnya dikutip SketsaNusantara.id dari unggahan akun Instagram @tasyakamila pada hari Selasa, 24 Februari 2026.
Dalam unggahan yang terdiri dari 12 slide, Tasya membeberkan dengan lengkap mulai dari riwayat pendidikan hingga alasannya memilih kuliah di S2 Columbia University, Amerika Serikat, pada 2016–2018 dengan jurusan Public Administration in Energy and Environmental Policy.
Ibu 2 anak itu mengungkapkan ketertarikannya pada isu lingkungan hidup dan kebijakan publik yang sudah tumbuh sejak lama, sejak Tasya dipercaya sebagai Duta Lingkungan Hidup pada 2005.
"Tujuan mengikuti perkuliahan bukan cuma memperoleh ilmu, tetapi juga skill, koneksi/network untuk bisa memanfaatkan platform ku sebagai publik figur agar bisa menjadi jembatan antara pemerintah (policymaker) dan masyarakat umum (public), terutama di bidang keberlanjutan (sustainability)," tuturnya.