"Do you want to know why that hurts a lot of people, Prilly? Kamu, figur publik yang sudah kenyang, ujug ujug datang dan 'bercanda' di meja orang-orang yang lapar, bahkan hampir mati karena kelaparan," imbuhnya.
Ia menekankan bahwa kemarahan publik bukan semata ditujukan pada Prilly sebagai individu, melainkan pada luka struktural yang tersentuh oleh tindakan tersebut.
"Marahnya sebetulnya bukan soal kamu sebagai individu, tapi soal luka struktural yang kesenggol. LinkedIn buat ribuan orang jadi ruang survival, tempat mereka cari penghasilan menghidupi keluarga atau sekedar bertahan hidup," ujarnya.
"Begitu banyak orang benar-benar open to work nggak pernah dapat spotlight. Sekali figur publik macam kamu masuk, kelar banget dan mereka makin nggak kelihatan," tandasnya.
Dalam rangkaian unggahan yang terdiri dari belasan slide, Poppy juga menyoroti diksi yang digunakan Prilly, seperti pernyataan bahwa dirinya memakai badge tersebut bukan karena "kekurangan aktivitas".
Bagi sebagian orang, frasa tersebut dianggap menunjukkan ketimpangan realitas yang terlalu kontras dengan kondisi mayoritas pengguna LinkedIn.
Meski demikian, Poppy menegaskan tulisannya bukan bertujuan untuk menghakimi Prilly. Ia justru mendorong refleksi dan pembelajaran, terutama bagi figur publik yang memiliki pengaruh besar.
Menurutnya, niat baik tidak selalu mampu mengalahkan persepsi publik ketika dampak sosialnya sudah terlanjur dirasakan.
"Sebagai figur berprivilese, kamu nggak dinilai dari intensimu, tapi dari dampak. Dan di kasus ini, dampaknya nyata," ujarnya.
"Mau belajar hal baru tuh sah banget kok. Siapapun berhak punya keinginan itu; termasuk seorang Prilly Latuconsina. Namun belajar membaca ruang dan emosi kolektif jauh lebih penting," terangnya.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa simbol sosial tidak pernah netral, terlebih ketika digunakan oleh mereka yang memiliki privilese.
Di tengah kelelahan publik terhadap aksi performatif, empati dan kepekaan membaca ruang menjadi tuntutan penting bagi siapa pun yang memiliki panggung besar.