showbiz

Kasus Ressa Rossano Ramai Disorot, Aktivis Perempuan Minta Publik Berempati dan Tak Gegabah Menghakimi Denada sebagai 'Ibu Durhaka', Ini Alasannya

Rabu, 4 Februari 2026 | 12:30 WIB
Potret Denada yang mendapat sorotan dari aktivis perempuan lantaran dianggap 'ibu durhaka' karena menelantarkan Ressa Rossano anak kandungnya (Instagram/denadaindonesia)

SketsaNusantara.id – Polemik terkait permasalahan ibu dan anak masih terus jadi perbincangan publik, meski Denada telah secara terbuka telah mengakui Ressa Rossano sebagai anak kandungnya.

Perhatian warganet tak hanya tertuju pada pengakuan Denada, tetapi juga pada dinamika emosional yang dialami Ressa serta dampak psikologis yang menyelimuti kasus ibu dan anak tersebut.

Ressa yang awalnya dihujat karena mendadak gugat Denada, kini mendapat banyak dukungan dari publik. Sebaliknya, Denada jadi bulan-bulanan warganet bahkan muncul seruan boikot, meski sudah akui dirinya ibu kandung Ressa.

Publik menilai putri Emilia Contessa itu bukan contoh publik figur dan sosok ibu yang baik karena telah menelantarkan anak kandungnya sendiri.

Baca Juga: Emosional, Denada Tambunan Minta Maaf Sampaikan Pesan Menyentuh Usai Akui Ressa Sebagai Anak Kandungnya, Mata Sembab hingga Profil IG Jadi Sorotan

Di tengah derasnya opini dan penghakiman publik, aktivis dan pegiat isu perempuan Poppy Dihardjo turut angkat bicara.

Melalui akun Instagram pribadinya, Poppy mengajak publik untuk melihat kasus ini dengan perspektif yang lebih empatik dan adil dari sisi ibu maupun anak.

"Kisah Denada si Ibu Durhaka? Jangan mudah menghakimi," tulisnya dikutip SketsaNusantara.id dari threads yang diunggah di akun Instagram @poppydihardjo pada hari Senin, 2 Februari 2026.

"Saya bukannya ingin 'membela' Denada yang 'akhirnya' mengakui kalau R ́adalah benar anak kandungnya. Saya mau ajak kamu semua untuk mempertanyakan apakah kita sudah nggak adil sejak dalam pikiran dalam melihat kasus ini?," tuturnya.

Baca Juga: Adjie Pangestu Ikut Terseret dalam Kasus Ressa Rizky, Dituding Ayah Biologis Anak Denada, Begini Responnya...

Poppy mengajak masyarakat untuk agar publik tidak terlalu cepat memberi label dan vonis moral, tanpa memahami kompleksitas yang mungkin terjadi di balik sebuah keputusan hidup yang harus diambil seorang perempuan.

Dalam unggahannya, Poppy membagikan sebuah kisah nyata dari lingkaran terdekatnya, tentang seorang perempuan yang hamil di usia 17 tahun setelah mengalami kekerasan seksual saat menempuh pendidikan di luar negeri.

Anak yang lahir dari kejadian tragis tersebut kemudian dibesarkan oleh keluarga, sementara ibu biologisnya mengalami depresi berat hingga didiagnosis ODGJ saat kembali ke Indonesia.

Berkaca dari kisah tersebut, Poppy mengajukan pertanyaan krusial. "Bagaimana kalau ternyata R (Ressa) itu adalah anak yang lahir dari kasus kekerasan seksual?!" ucapnya.

Baca Juga: Emosional, Rieke Diah Pitaloka Soroti Kasus Child Grooming Aurelie Moeremans, Desak Negara Lebih Serius Bertindak Tangani Kasus Kekerasan Seksual

"Dalam situasi seperti itu, keputusan perempuan mempertahankan kehamilannya masuk kategori tindakan yang kompleks secara moral, psikologis, sosial, dan tak jarang bukan keputusannya sendiri," ujarnya.

Poppy menekankan bahwa keputusan mempertahankan kehamilan, menyerahkan pengasuhan, atau menjaga jarak dari anak, sering kali bukan pilihan yang sederhana, terutama bagi perempuan yang memiliki trauma setelah menjadi korban kekerasan seksual.

Halaman:

Tags

Terkini