Menurut wanita kelahiran Medan ini, munculnya asumsi-asumsi liar yang berseliweran di sosial media sebaiknya jangan ditelan mentah-mentah.
“Fakta pun, bukan urusan kita untuk digelar di sosial media. Apalagi hanya berdasarkan asumsi,” tegasnya.
Wanita berusia 33 tahun ini menyarankan agar setiap orang lebih memikirkan kehidupannya sendiri daripada kehidupan orang lain.
“Memikirkan bagaimana hidup kita masing-masing ke esok hari jauh lebih penting daripada membedah masa lalu orang lain,” imbuhnya.
Dosa dan pahala merupakan ranah Sang Pencipta dan bukan tugas manusia untuk menghitungnya.
“Merasa diri lebih suci tidak berarti kita bebas dari dosa. Seringkali itu hanya berarti dosa kita belum dibuka,” ungkapnya.
Sabrina meminta kepada netizen untuk berhenti membicarakan keburukan orang lain yang belum tentu pasti kebenarannya.
“Jadi mari berhenti menjadikan apa yang kita anggap sebagai dosa orang lain—yang bahkan belum tentu fakta—sebagai hiburan harian,” ujarnya.
Sebagai manusia, sudah seharusnya belajar menjadi pribadi yang baik daripada sibuk mengurusi dosa orang lain.
“Mari belajar jadi manusia, bukan malaikat pencatat dosa,” tutupnya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!