showbiz

Bukan Kegagalan Guru, Jerome Polin Soroti Nilai Matematika TKA Jeblok Karena Kesalahan Sistem Pendidikan yang Perlu Dibenahi, Begini Penjelasannya

Kamis, 27 November 2025 | 11:00 WIB
Potret Jerome Polin tanggapi perkataan Mendikdasmen terkait buruknya nilai TKA Matematika yang disebabkan kesalahan sistem pendidikan di Indonesia (Instagram/jeromepolin)

Tak sedikit yang menyoroti banyaknya pelajar SMP dan SMA yang terbilang lemah dalam berhitung apalagi ada yang masih belum hapal perkalian yang seharusnya sudah dikuasai sejak duduk di sekolah dasar (SD).

"Betul banget! Materi matematika yang tidak bertahap proses pembelajarannya, amburadul semua. Harusnya seperti zaman dulu, lihat aja sekarang anak SMA aja ada yang masih belum hapal perkalian, ngenes!" komentar salah satu warganet.

Baca Juga: Jerome Polin Kritik Tunjangan Rumah dan Anggaran Beras DPR hingga Puluhan Juta, Sindir Pemerintah yang Tak Pedulikan Nasib Rakyat Kecil di Indonesia

"Contoh anak SD sekarang langsung diajari KPK dan FPB tanpa paham dulu perkalian dan tahu bilangan prima itu apa, sedih ngeliat kurikulum zaman sekarang makin ngaco," imbuh netizen lainnya.

"Ya jelas Salah sistemnya. Tiap ganti menteri berubah ubah terus kurikulumnya. Sedari SD dan SMP harusnya sudah menguasai dasar-dasar matematika, jadi pas di SMA tinggal pengembangan. Orang tua juga ikut repot, kasian anak-anak juga udah capek di sekolah tapi masih harus ikut les," tulis warganet lainnya.

Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) juga menyayangkan pernyataan Mendikdasmen yang terkesan menyalahkan guru. Menurutnya, nilai Matematika TKA jeblok bukan salah guru dan beberapa masalah yang perlu dibenahi.

Baca Juga: Minta Tolong Menkeu Purbaya, Rieke Diah Pitaloka Soroti Kerusakan SDN 156 Kalukubodo Sulsel, Tekankan Pentingnya Alokasi Anggaran untuk Pendidikan

"Hasil TKA 2025 kembali menunjukkan nilai matematika ambruk secara nasional dan itu berulang seperti tahun-tahun sebelumnya," tulis JPPI melalui akun Instagram @sahabatjppi.

"JPPI menegaskan bahwa masalah ini bukan salah guru, melainkan kegagalan sistemik: diskriminasi guru, LPTK yang mandek, hingga pelatihan yang hanya seremonial," pesannya.

"Menyalahkan guru hanya mengaburkan tanggung jawab negara dalam membangun ekosistem pendidikan yang adil dan berkualitas," tandasnya.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini 

Halaman:

Tags

Terkini