SketsaNusantara.id - Denny Siregar menyoroti industri kabar penutupan sejumlah bioskop yang ikut berdampak pada industri perfilman di Indonesia.
Belakangan ini, mencuat kabar sejumlah bioskop di Indonesia teracam tutup pada tahun 2026 mendatang, seiring dengan menurunnya minat masyarakat untuk menonton film di bioskop.
Ketatnya persaingan dengan layanan streaming online dan peralihan perilaku masyarakat untuk menonton film melalui platform digital menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi penurunan jumlah penonton di beberapa lokasi bioskop.
Perubahan perilaku penonton sejak masa pandemi, ditambah meningkatnya popularitas layanan streaming online seperti Netflix, membuat industri layar lebar di tanah air mengalami tekanan berat.
Selain itu, kondisi perekonomian masyarakat yang belum sepenuhnya pulih pasca pandemi turut memengaruhi daya beli masyarakat termasuk menonton film di bioskop.
Denny menyayangkan kondisi ini, mengingat industri film merupakan salah satu sektor penting yang mampu menggerakkan perekonomian nasional.
Pegiat sosial sekaligus penulis dan produser film itu menilai pemerintah perlu memberi perhatian lebih pada sektor ini, sebagaimana negara lain yang berhasil mengangkat perekonomiannya lewat budaya film.
"Industri film itu adalah industri skala besar, padat karya dan padat modal. Jika industri ini berkembang, akan mempekerjakan ratusan ribu orang," ujarnya melalui akun Instagram @dennysirregar dikutip SketsaNusantara.id dari unggahan hari Rabu, 12 November 2025.
"Ekonomi daerah akan bergerak, pariwisata akan tumbuh, dan bisa menambah kekuatan ekspor dalam bentuk budaya seperti yang dilakukan Korea Selatan," tutur Denny.
Menurutnya, jika banyak bioskop yang tutup, maka hal itu dapat menjadi awal dari kemunduran industri film Indonesia.
"Kalau bioskop-bioskop mulai tutup, maka industri film akan mati, karena pendapatan terbesar film berasal dari bioskop,” imbuhnya.