“Siapa di sini yang pengen Indonesia dijajah negara lain, trus sistem pemerintahan sekarang diambil alih?” komentar @rizkykemal002.
“Alfatihah Raya,” ucap akun @adelliaqueen2a_26.
Ada pula warganet yang mempertanyakan mekanisme layanan IGD. “Kenapa jg ke IGD-nya? Pdhl udah dirawat loh Raya, bahkan dikasih waktu bbrp hari untuk ngurus BPJS-nya,” tulis @pwinnaomi.
Tak sedikit pula yang setuju dengan kritik yang dilontarkan King Abdi. “Agree” kata akun @chefdesmondlim.
Kisah Raya mencerminkan potret nyata kesenjangan dalam akses kesehatan di Indonesia. Unit gawat darurat seharusnya menjadi pintu pertama penanganan cepat tanpa memandang latar belakang pasien.
Namun, kasus ini justru menunjukkan bahwa mekanisme kedaruratan sering kali berbenturan dengan persoalan administrasi dan kemampuan finansial.
“Sakno dek Raya, ngurus BPJS-nya dilempar sana sini sampai akhirnya dek Raya berpulang. Sementara para pejabat asyik joget-joget, nggak ngurus rakyat e sing soro ga karuan,” komentar akun @lw.melody dengan nada getir.
Netizen lainnya juga menyoroti penggunaan anggaran negara. “Berharap opo karo negoro sing biaya APBN e gawe kesehatan karo pendidikan karo nomor 1” tulis akun @faaldy.
Ungkapan-ungkapan tersebut menjadi suara publik yang menuntut perubahan nyata dalam sistem pelayanan kesehatan, agar tragedi seperti yang dialami Raya tidak kembali terulang.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!