Ia juga menekankan bahwa film Merah Putih: One for Alla juga dibuat tanpa menggunakan AI (artificial Intelligence) dan meminta publik bangga dengan hasil karya anak bangsa yang murni dari kreativitas
5. Tayang di Bioskop Dapat Tawaran dari 'Ordal'?
Animator Merah Putih: One for All juga blak-blakan menyebut penggarapan proyek animasi ini bermula setelah mendapat tawaran dari seseorang di bidang perfilman.
"Saya kenalan dengan seseorang yang kebetulan bergerak di bidang perfilman. Setelah beliau lihat portofolio dan website saya, beliau yakin dan terus mendorong saya untuk mencoba," ucapnya.
Belakangan ini juga muncul rumor bahwa film ini bisa tayang di bioskop. Namun Bintang menyebut Perfiki Kreasindo ini bukan perusahaan BUMN dan membantah soal rumor 'ordal'.
"Soal tayang di bioskop (nggak ada ordal), kenalan say ini juga berjuang supaya film ini bisa lolos tayang. Kebetulan beliau anggota komunitas pemilik bioskop di Indonesia dan meminta bantuan komunitas tersebut," tutur Bintang.
"Jadi begitulah, kita membuat tanpa modal besar, tanpa sponsor, tanpa bantuan pemerintah. Mungkin ada netizen yang curiga film kualitas begini tayang di bioskop (dari koneksi ordal) dan dapat dana dari pemerintah, saya cuma tersenyum, boro-boro, bro. Nggak ada sama sekali" pungkasnya.
Film Merah Putih: One for All menuai kritik karena kualitas gambar yang tak memuaskan seolah dibuat asal-asalan dengan tenggat waktu singkat.
Publik menyayangkan film tersebut tayang di bioskop dibandingkan dengan Jumbo yang dibuat sepenuh hati.
Meski memakan waktu lama hingga 5 tahun, film garapan Ryan Adriyandhi ini sukses menembus box office dan jadi film Indonesia terlaris sepanjang masa dengan peraihan 10 juta penonton.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini