Meski demikian, ada juga yang memandang sound horeg sebagai bentuk hiburan rakyat. Di sejumlah desa, iringan ini bahkan dianggap sebagai budaya baru yang mempererat komunitas dan memberikan ruang ekspresi bagi anak muda.
Menanggapi hal ini, Tipe-X tidak memberikan pernyataan keras. Justru melalui pendekatan humor, mereka menyampaikan bahwa sebagai pemilik lagu, mereka menyadari popularitas karya mereka di kalangan sound system jalanan.
Tipe-X sendiri sudah eksis di dunia musik sejak 1995. Grup ini awalnya bernama Headmaster sebelum akhirnya berganti nama menjadi Tipe-X. Hingga kini, formasinya terdiri dari Tresno Riadi (vokal), Micky (bass), Yoss (gitar), Billy (gitar), Arie Hardjo (drum), dan Anto (trombone).
Band ini dikenal konsisten mengusung genre ska dan telah merilis banyak lagu yang jadi anthem generasi 90-an dan 2000-an awal.
Kini, dengan gaya yang tetap nyentrik dan cara komunikasi yang santai, mereka memilih menyikapi fenomena baru ini dengan bijak namun tetap menyelipkan pesan soal hak cipta.
Warganet pun menyoroti unggahan tersebut. Ada yang menganggap Tipe-X sedang melempar kode keras soal royalti.
Ada juga yang meminta para operator sound system lebih menghargai musisi dengan mengurus izin lagu atau memberikan kompensasi jika karya mereka digunakan untuk kepentingan komersial.
"Hayo loh...yg punya karya sudah mulai bersuara," tulis akun @bhodXXX.
"Klo ditagih royalti pasti mereka jawab "kita rakyat kecil, ini cuma sekedar hiburan rakyat kecil," tulis akun @_kaptXXX.
"Harus ada royalty Krn mereka menerapkan tarif penonton 15rb sampe 30rb bahkan malakin masyarakat setempat sampe 150rb per KK," tulis akun @nnXXX.
***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!