Jumat, 12 Juni 2026

Solusi Limbah Batik di Bantul, IFG Bangun IPAL yang Mampu Pangkas Pencemar Lebih dari 90 Persen

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Rabu, 22 April 2026 | 19:00 WIB
Peresmian Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di sentra Nayantaka Batik, Bantul oleh IFG.   (Dok. IFG)
Peresmian Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di sentra Nayantaka Batik, Bantul oleh IFG. (Dok. IFG)

SketsaNusantara.id - Limbah industri batik kembali menjadi perhatian dalam upaya menjaga lingkungan.

Indonesia Financial Group (IFG) bersama anggota holding menghadirkan solusi konkret di Bantul.

Fasilitas pengolahan limbah kini dibangun untuk menjawab tantangan tersebut.

Baca Juga: Tak Hanya Untung Rp1 Triliun, Jamkrindo Dinilai IFG Sukses Angkat Jutaan UMKM dan Perkuat Ekonomi Nasional

Langkah ini diwujudkan melalui pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Fasilitas tersebut berada di sentra Nayantaka Batik, Bantul. Program ini menjadi bagian dari dorongan menuju praktik industri yang lebih berkelanjutan.

IPAL merupakan sistem yang dirancang untuk mengolah limbah cair sebelum dibuang ke lingkungan. Prosesnya melibatkan tahapan fisika, kimia, dan biologis. Tujuannya adalah menurunkan kandungan zat berbahaya dalam limbah industri.

Melalui sistem ini, berbagai zat pencemar dapat ditekan secara signifikan. Di antaranya adalah Total Suspended Solid (TSS), Total Dissolved Solid (TDS), fenol, serta minyak dan lemak. Hasil olahan air menjadi lebih aman dan sesuai standar lingkungan.

Baca Juga: Kinerja IFG Tembus Target di 2025, Ini Langkah Besar Hadapi Gejolak Global dan Konsolidasi Asuransi Nasional

Fasilitas IPAL yang dibangun IFG menunjukkan hasil yang terukur. Kadar pencemar limbah cair batik mampu ditekan lebih dari 90 persen. Angka ini menjadi indikator penting dalam pengelolaan limbah industri batik.

Inisiatif tersebut dinilai sebagai langkah strategis. Selama ini, limbah batik menjadi salah satu tantangan utama sektor tersebut. Kehadiran IPAL memberikan solusi nyata dalam mengurangi potensi pencemaran.

Sekretaris Perusahaan IFG, Denny S Adji, menjelaskan tujuan utama program ini. “Kami tidak hanya menghadirkan solusi lingkungan, tetapi juga mendorong peningkatan nilai tambah bagi pelaku usaha batik melalui praktik produksi yang lebih bersih, efisien, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Program ini tidak berjalan sendiri. IFG menggandeng sejumlah anggota holding dalam pelaksanaannya. Di antaranya PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), PT Jasa Raharja, PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo), dan PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo).

Selain itu, program ini juga melibatkan Yayasan Inspirasi Anak Bangsa (YIAB). Pemerintah daerah turut memberikan dukungan dalam implementasi kegiatan tersebut. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi bagian dari ekosistem pengembangan berkelanjutan.

Dari sisi dampak, keberadaan IPAL membawa perubahan signifikan. Tidak hanya pada kualitas lingkungan, tetapi juga pada sektor usaha. Pelaku UMKM batik kini memiliki peluang meningkatkan standar produksinya.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X