1. Mengenali kemarahan mereka.
2. Menjelaskan arti emosi yang dirasakan.
3. Menerimanya.
4. Melepaskannya atau mengekspresikannya dengan aman.
5. Membangun keterampilan dalam mengatasi atau mencari solusi alias problem solving.
Contohnya adalah membantu anak memberi nama pada emosinya. Misalnya, ketika anak marah karena mainanya diambil, ucapkan kalimat berikut:
“Kamu marah karena mainanmu diambil, ya?”
Dengan memahami apa yang mereka rasakan, anak lebih mudah mengelola perasaannya.
Setelah itu, bantu mereka menemukan cara sehat untuk meluapkan emosi. Contohnya, menggambar, bernyanyi, atau sekadar berbicara. Hindari meminta mereka langsung berhenti menangis atau marah.
Orang tua punya peran sangat besar dalam membentuk masa depan anak. Jadi, mulailah dari sekarang.
Dengarkan emosi mereka, ajari cara menghadapinya, dan jadilah pendukung utama dalam perjalanan hidup mereka.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!