Baca Juga: Wisata ala Kampung Jepang di Lumajang: Sajikan Perkebunan Organik Sayur hingga Tanaman Herbal
Pemerintah kolonial Belanda menyediakan bantuan secukupnya untuk memastikan para kolonis ini betah.
Termasuk premi 20 gulden per keluarga, alat masak, alat pertanian, dan bahan makanan untuk dua tahun.
Sejak kedatangan pertama pada 1905, gelombang demi gelombang orang Jawa terus berdatangan ke Lampung.
Data menunjukkan, antara 1905 dan 1919, lebih dari 26.000 jiwa dipindahkan ke Lampung.
Mereka membangun lima desa inti dengan struktur pemerintahan yang mirip dengan di Jawa, lengkap dengan kepala desa, lurah, dan asisten wedana.
Sistem pertanian dan fasilitas pun semakin membaik, dengan irigasi dan jembatan air atau viaduk yang masih bisa dilihat di desa Fajar Resuk, Pringsewu.
Pada 1935, daerah Sukadana mulai dikenal sebagai daerah transmigrasi baru, melahirkan kota Metro.
Setelah kemerdekaan Indonesia, istilah "kolonis" berubah menjadi "transmigran."
Pada 1952, pemerintah Republik Indonesia mengirimkan ribuan orang dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Bali ke Lampung.
Hingga tahun 1968, tercatat 221.035 jiwa yang dipindahkan.
Transmigrasi yang dimulai oleh Belanda pada 1905 dan dilanjutkan oleh Indonesia pada 1950, masih memiliki dampak yang signifikan hingga hari ini.
Lampung, yang dulunya merupakan tujuan transmigrasi, kini menjadi daerah asal transmigran.
Banyak warga Lampung yang sekarang dikirim ke Kalimantan.