SketsaNusantara.id - Banyak orang pernah mengalami kondisi ketika kaki yang berkeringat setelah seharian memakai sepatu menimbulkan bau tidak sedap.
Bahkan, tidak sedikit yang menyamakan aroma tersebut dengan bau keju yang sudah lama atau dikenal sebagai “keju busuk”.
Fenomena ini ternyata bukan sekadar kebetulan, melainkan memiliki penjelasan ilmiah dari sudut pandang mikrobiologi.
Bahkan, tidak sedikit yang menyamakan aroma tersebut dengan bau keju yang sudah lama atau dikenal sebagai “keju busuk”.
Fenomena ini ternyata bukan sekadar kebetulan, melainkan memiliki penjelasan ilmiah dari sudut pandang mikrobiologi.
Baca Juga: Berapa Harga Whoop Band? Inilah Gelang yang Digunakan Deddy Corbuzier untuk Memantau Kesehatan Vidi Aldiano, Fungsinya Mirip Seperti Pelatih Pribadi
Penjelasan mengenai fenomena ini disampaikan oleh dokter sekaligus ahli mikrobiologi klinik, dr Ayman Alatas SpMK, melalui sebuah unggahan edukatif di media sosial.
Ia menjelaskan bahwa bau kaki yang menyerupai aroma keju sebenarnya berkaitan dengan aktivitas mikroorganisme yang hidup secara alami di permukaan kulit manusia.
Menurut dr. Ayman, kulit kaki sebenarnya merupakan tempat yang ideal bagi pertumbuhan mikroorganisme tertentu.
Penjelasan mengenai fenomena ini disampaikan oleh dokter sekaligus ahli mikrobiologi klinik, dr Ayman Alatas SpMK, melalui sebuah unggahan edukatif di media sosial.
Ia menjelaskan bahwa bau kaki yang menyerupai aroma keju sebenarnya berkaitan dengan aktivitas mikroorganisme yang hidup secara alami di permukaan kulit manusia.
Menurut dr. Ayman, kulit kaki sebenarnya merupakan tempat yang ideal bagi pertumbuhan mikroorganisme tertentu.
Baca Juga: Waspada Bintik Hitam di Botol Minum, Dokter Ungkap Bisa Jadi Sarang Bakteri dan Jamur yang Berbahaya
Hal ini disebabkan oleh kondisi kaki yang sering tertutup sepatu dalam waktu lama sehingga menjadi lembap dan hangat.
Dalam penjelasannya ia menyebut bahwa kulit kaki kita sebenarnya adalah habitat utama bagi bakteri Brevibacterium.
Bakteri ini dikenal sebagai salah satu mikroorganisme yang secara alami hidup di kulit manusia.
Hal ini disebabkan oleh kondisi kaki yang sering tertutup sepatu dalam waktu lama sehingga menjadi lembap dan hangat.
Dalam penjelasannya ia menyebut bahwa kulit kaki kita sebenarnya adalah habitat utama bagi bakteri Brevibacterium.
Bakteri ini dikenal sebagai salah satu mikroorganisme yang secara alami hidup di kulit manusia.
Baca Juga: Jangan Asal Cuci Ayam Mentah! Dokter Ungkap Risiko Hujan Kuman dan Bakteri yang Bisa Menyebar ke Seluruh Dapur
Meski keberadaannya normal dan tidak selalu berbahaya, aktivitas bakteri tersebut dapat menghasilkan senyawa yang menimbulkan bau khas.
Menariknya, bakteri yang sama juga digunakan dalam industri makanan, khususnya dalam proses pembuatan beberapa jenis keju.
Penjelasan ilmiah yang disampaikan dr. Ayman menunjukkan adanya hubungan yang cukup unik antara bau kaki dan aroma keju tertentu.
Ia menjelaskan bahwa bakteri Brevibacterium yang hidup di kulit kaki juga dimanfaatkan dalam proses fermentasi keju.
Meski keberadaannya normal dan tidak selalu berbahaya, aktivitas bakteri tersebut dapat menghasilkan senyawa yang menimbulkan bau khas.
Menariknya, bakteri yang sama juga digunakan dalam industri makanan, khususnya dalam proses pembuatan beberapa jenis keju.
Penjelasan ilmiah yang disampaikan dr. Ayman menunjukkan adanya hubungan yang cukup unik antara bau kaki dan aroma keju tertentu.
Ia menjelaskan bahwa bakteri Brevibacterium yang hidup di kulit kaki juga dimanfaatkan dalam proses fermentasi keju.
Baca Juga: Bolehkah Tidur Lagi Setelah Sahur? Begini Kata Dokter Tirta Mengenai Risikonya Bagi Tubuh
Bakteri tersebut berperan dalam mematangkan jenis keju tertentu sehingga menghasilkan aroma khas yang kuat.
Dalam unggahan tersebut disebutkan bahwa bakteri ini secara harfiah digunakan oleh para pembuat keju untuk mematangkan jenis keju beraroma kuat seperti Limburger.
Karena bakteri yang terlibat sama, maka tidak mengherankan apabila aroma yang dihasilkan juga memiliki kemiripan.
Bau kaki sebenarnya terbentuk melalui proses biologis yang cukup kompleks.
Ketika kaki berada dalam kondisi tertutup sepatu dalam waktu lama, keringat akan menumpuk dan menciptakan lingkungan yang lembap.
Lingkungan tersebut menjadi tempat yang ideal bagi bakteri untuk berkembang biak.
Dalam penjelasannya, dr. Ayman menyebut bahwa saat kaki lembap dan tertutup, koloni bakteri ini berpesta memecah sel kulit mati serta protein pada keringat.
Proses pemecahan tersebut kemudian menghasilkan senyawa kimia tertentu yang memunculkan aroma khas.
Salah satu senyawa yang dilepaskan adalah methanethiol, yaitu senyawa yang memiliki aroma sangat kuat.
Dalam penjelasannya disebutkan bahwa senyawa tersebut memiliki profil aroma identik dengan keju yang sedang difermentasi.
Karena itulah bau kaki sering kali disamakan dengan aroma keju yang sudah lama atau keju yang sedang mengalami proses fermentasi.
Dalam penjelasan yang cukup menarik, dr. Ayman bahkan menggambarkan kaki manusia sebagai sebuah sistem biologis yang aktif.
Ia menyebut bahwa secara ilmiah, kondisi ini dapat dianalogikan sebagai kaki adalah “kilang biologis” alami yang sangat aktif.
Artinya, berbagai proses biologis yang terjadi di kulit kaki dapat menghasilkan senyawa tertentu yang memunculkan aroma khas.
Walau terdengar unik, fenomena ini sebenarnya merupakan bagian dari interaksi alami antara tubuh manusia dengan mikroorganisme yang hidup di permukaannya.
Meski bau kaki merupakan fenomena yang cukup umum, kondisi ini tetap dapat dicegah dengan menjaga kebersihan dan kesehatan kaki.
Dr. Ayman menekankan bahwa menjaga kebersihan kaki menjadi langkah penting untuk mengontrol populasi bakteri yang menyebabkan bau tersebut.
Dalam penjelasannya ia menyebut bahwa menjaga kaki tetap kering serta rutin mengganti kaus kaki dapat membantu mengontrol jumlah bakteri “pembuat keju”.
Dengan menjaga kebersihan kaki, populasi bakteri dapat tetap berada dalam batas normal sehingga tidak menimbulkan bau yang menyengat.
Dilansir SketsaNusantara.id dari akun X @AymanAlatas, edukasi ini diharapkan dapat membantu masyarakat memahami bagaimana proses biologis di tubuh manusia dapat menghasilkan berbagai fenomena yang sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari.***
Bakteri tersebut berperan dalam mematangkan jenis keju tertentu sehingga menghasilkan aroma khas yang kuat.
Dalam unggahan tersebut disebutkan bahwa bakteri ini secara harfiah digunakan oleh para pembuat keju untuk mematangkan jenis keju beraroma kuat seperti Limburger.
Karena bakteri yang terlibat sama, maka tidak mengherankan apabila aroma yang dihasilkan juga memiliki kemiripan.
Bau kaki sebenarnya terbentuk melalui proses biologis yang cukup kompleks.
Ketika kaki berada dalam kondisi tertutup sepatu dalam waktu lama, keringat akan menumpuk dan menciptakan lingkungan yang lembap.
Lingkungan tersebut menjadi tempat yang ideal bagi bakteri untuk berkembang biak.
Dalam penjelasannya, dr. Ayman menyebut bahwa saat kaki lembap dan tertutup, koloni bakteri ini berpesta memecah sel kulit mati serta protein pada keringat.
Proses pemecahan tersebut kemudian menghasilkan senyawa kimia tertentu yang memunculkan aroma khas.
Salah satu senyawa yang dilepaskan adalah methanethiol, yaitu senyawa yang memiliki aroma sangat kuat.
Dalam penjelasannya disebutkan bahwa senyawa tersebut memiliki profil aroma identik dengan keju yang sedang difermentasi.
Karena itulah bau kaki sering kali disamakan dengan aroma keju yang sudah lama atau keju yang sedang mengalami proses fermentasi.
Dalam penjelasan yang cukup menarik, dr. Ayman bahkan menggambarkan kaki manusia sebagai sebuah sistem biologis yang aktif.
Ia menyebut bahwa secara ilmiah, kondisi ini dapat dianalogikan sebagai kaki adalah “kilang biologis” alami yang sangat aktif.
Artinya, berbagai proses biologis yang terjadi di kulit kaki dapat menghasilkan senyawa tertentu yang memunculkan aroma khas.
Walau terdengar unik, fenomena ini sebenarnya merupakan bagian dari interaksi alami antara tubuh manusia dengan mikroorganisme yang hidup di permukaannya.
Meski bau kaki merupakan fenomena yang cukup umum, kondisi ini tetap dapat dicegah dengan menjaga kebersihan dan kesehatan kaki.
Dr. Ayman menekankan bahwa menjaga kebersihan kaki menjadi langkah penting untuk mengontrol populasi bakteri yang menyebabkan bau tersebut.
Dalam penjelasannya ia menyebut bahwa menjaga kaki tetap kering serta rutin mengganti kaus kaki dapat membantu mengontrol jumlah bakteri “pembuat keju”.
Dengan menjaga kebersihan kaki, populasi bakteri dapat tetap berada dalam batas normal sehingga tidak menimbulkan bau yang menyengat.
Dilansir SketsaNusantara.id dari akun X @AymanAlatas, edukasi ini diharapkan dapat membantu masyarakat memahami bagaimana proses biologis di tubuh manusia dapat menghasilkan berbagai fenomena yang sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!