Namun, jika anda merasakan lebaran blues seperti ini, itu adalah hal yang wajar dan anda tidak sendirian.
Kendati demikian, siapapun bisa tetap merayakan lebaran dengan cara yang lebih sederhana dan ciptakan suasana nyaman bagi diri sendiri.
Semua pertanyaan 'julid' tak perlu dianggap serius. Sesekali merasa 'egois' sesekali dengan tidak memaksakan diri menjawab pertanyaan 'julid' orang lain juga dianggap perlu untuk menjaga kesehatan mental.
Dilansir SketsaNusantara.id dari situs resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), pasca Lebaran blues juga muncul sindrom post-holiday blues yang meliputi perasaan sedih, cemas, tidak bersemangat, dan lelah emosional yang muncul setelah berakhirnya libur panjang Lebaran.
Kondisi ini terjadi akibat transisi drastis dari suasana santai/liburan kembali ke rutinitas harian, pekerjaan, atau saat harus berpisah kembali dengan keluarga.
Lebaran blues maupun post-holiday blues berkaitan erat dengan kesehatan mental sebagai reaksi emosional sementara, dan umumnya bukan gangguan mental kronis.
Meskipun bersifat sementara, kondisi ini dapat memperburuk gangguan mental yang sudah ada dan berisiko menjadi burnout jika berlangsung lama.
Oleh karena itu penting untuk menjaga kesehatan dengan menyesuaikan pola tidur yang cukup sebelum kembali beraktivitas pada rutinitas normal.
Jika terlalu lelah secara mental, batasi penggunaan media sosial serta menjaga hubungan sosial dengan menghindari lingkungan 'toxic' yang bisa berpengaruh pada kesehatan mental.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini