SketsaNusantara.id - Nastar menjadi salah satu hidangan kue kering yang tak pernah absen mengisi toples di rumah-rumah keluarga Indonesia saat perayaan Hari Raya Idul Fitri.
Dari banyaknya kue kering yang ada, seperti kastengels hingga putri salju, nastar menjadi pilihan hidangan yang paling banyak disajikan saat Lebaran.
Lantas, apa yang menjadikan nastar ini identik dengan Lebaran? Terselip kisah menarik di balik manis legitnya kue kering satu ini yang konon sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda.
Berdasarkan penelusuran SketsaNusantara.id dari berbagai sumber, diketahui bahwa kue nastar berakar dari tradisi kolonial Belanda yang diadaptasi masyarakat Indonesia.
Awalnya, nastar datang dari negara Tiongkok yang melihat buah nanas sebagai simbol keberuntungan yang pertama kali masuk ke Indonesia pada abad ke-17.
Saat itu, kue ini belum dikenal sebagai nastar dan bentuknya belum seperti nastar yang ada sekarang ini. Nastar kemudian menjadi sangat populer pada zaman penjajahan Belanda.
Baca Juga: Baru! 8 Link Twibbon Spesial Lebaran 2026, Bagikan Satu Hari Sebelum Idul Fitri Dimulai!
Pada masa itu, Belanda memperkenalkan kue nanas dengan bentuk bulat sempurna seperti yang sekarang ini kerap ditemui.
Nama nastar sendiri juga diambil dari bahasa Belanda yaitu ananas yang berarti nanas dan taartjes yang artinya tart atau kue.
Pada masa kolonial, masyarakat Belanda yang tinggal di Indonesia kerap membuat tart isi selai buah seperti stroberi atau bluberry saat perayaan.
Baca Juga: Rentetan Destinasi Wisata di Jember Siap Sambut Pengunjung saat Libur Lebaran
Tradisi tersebut mulai ditiru masyarakat Indonesia. Namun, buah-buahan tersebut sulit ditemui di Indonesia hingga akhirnya diadaptasi dengan buah lokal yakni nanas.
Seiring perkembangan zaman, kue mungil ini tak lagi identik sebagai hidangan kue untuk kalangan bangsawan seperti pada masa kolonial.