SketsaNusantara.id - Tak disangka, dua game balap legendaris yaitu Need for Speed Underground 2 dan Most Wanted ternyata memiliki jejak kontribusi dari pengembang game asal Indonesia.
Fakta ini kembali menjadi bahan perbincangan hangat di komunitas game setelah muncul unggahan dari akun Diogo Amaral di grup Facebook Need for Speed: Nitropostagem, yang menampilkan foto-foto tim dari studio pendukung Electronic Arts (EA) di Indonesia.
Dalam unggahan tersebut, disebutkan bahwa tim lokal Indonesia yang turut serta dalam proses pengembangan adalah Matahari Studios, sebuah studio game yang kala itu bermarkas di Indonesia.
Studio ini bertanggung jawab atas pembuatan model mobil 3D dalam dua judul besar franchise Need for Speed: Underground 2 (2004) dan Most Wanted (2005).
Dilansir SketsaNusantara.id dari unggahan Diogo Amaral di grup Facebook Need for Speed: Nitropostagem dan dari Instagram @beritagame, kontribusi mereka tidak hanya sebatas sebagai pihak outsourcing biasa.
Nama studio ini bahkan masuk ke dalam bagian "External Development" di bagian kredit akhir kedua game tersebut. Salah satu anggota tim, yang disebut sebagai Bullitt Sesariza, bahkan mendapat ucapan khusus berupa "Special Thanks" dalam kredit, menunjukkan peran pentingnya dalam proses produksi.
Dalam unggahan di grup facebook tersebut, Diogo menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada tim Matahari Studios: "3D asset Game Balap terbaik diciptakan oleh mereka... Untuk orang-orang ini... Ya mereka semua adalah yang terbaik, bangga menjadi bagian dari keluarga besar ini."
Selain terlibat dalam proyek EA, Matahari Studios juga memiliki portofolio yang cukup membanggakan. Beberapa game yang pernah mereka kerjakan antara lain "Besieged", "Space Invaders XL", dan "Cubis 2". Mereka juga mengembangkan game arcade berjudul "Dino Duel" yang pernah populer dan dapat ditemui di berbagai gerai Timezone di Indonesia.
Dengan berbagai karya tersebut, Matahari Studios menunjukkan bahwa talenta pengembang game di Indonesia sudah cukup matang sejak awal tahun 2000-an. Partisipasi mereka dalam proyek-proyek global menjadi bukti bahwa kualitas produk digital Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional.
Baca Juga: Ini Jawaban Budi Arie Setiadi Saat Namanya Terseret Taruhan Berbayar: Ini Political Game...
Namun sayangnya, perjalanan Matahari Studios harus terhenti pada tahun 2010. Dua tahun sebelumnya, pada 2008, studio ini telah diakuisisi oleh Kuju Entertainment, sebuah perusahaan asal Filipina. Setelah akuisisi tersebut, studio mengalami penyesuaian dan restrukturisasi, hingga akhirnya resmi menghentikan operasi pada 4 Februari 2010.