SketasaNusantara.id - Olimpiade Paris 2024 baru saja dibuka pada Senin 29 Juli 2024, namun sudah menuai banyak kecaman hingga disebut sebagai olimpiade terburuk sepanjang masa.
Apa yang diungkapkan sejumlah media masa tersebut bukannya tanpa alasan karena, pasalnya sejak pembangunan infrastruktur hingga hari pembukaan Olimpiade Paris 2024 sudah menimbulkan reaksi keras dari sejumlah pihak hingga disebut telah menjilat lidahnya sendiri.
Pembukaan Olimpiade Paris 2024 telah menjadi sorotan utama karena beberapa kontroversi yang muncul, terutama terkait dengan salah satu pertunjukan yang terinspirasi oleh lukisan terkenal Leonardo da Vinci, "Perjamuan Terakhir".
Dalam acara tersebut, penyelenggara menampilkan sebuah tableau yang menampilkan drag queens, yang memicu reaksi negatif dari berbagai kalangan, termasuk kelompok religius yang merasa terhina oleh representasi tersebut.
Melihat hal itu maka pihak penyelenggara Olimpiade Paris 2024 telah meminta maaf kepada siapa saja yang merasa tersinggung oleh pertunjukan tersebut.
Mereka menyatakan bahwa tujuan dari pertunjukan adalah untuk merayakan keberagaman dan kebebasan berekspresi, namun banyak yang menganggapnya sebagai penghinaan terhadap nilai-nilai religius dan budaya
Beberapa kritikus bahkan menyebutkan bahwa pertunjukan ini merupakan "penghinaan" bagi jutaan orang, terutama bagi wanita dan penganut agama tertentu.
Namun ternyata tak berhenti disitu saja, Prancis yang termasuk negara yang mengecam hingga membuat seruan boikot terhadap Piala Dunia Qatar tahun 2022 lalu ternyata juga mengalami hal yang sama, seperti dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube Detective Aldo.
Saat Piala Dunia Qatar 2022, banyak negara dan termasuk Prancis, telah menyuarakan keprihatinan mereka dan menyerukan boikot Piala Dunia Qatar terkait isu-isu hak asasi manusia dan lingkungan.
Rupanya, kini Olimpiade Paris menghadapi hal yang sama di mana pembangunan infrastruktur untuk Olimpiade Paris 2024 telah menjadi sorotan karena adanya isu sosial dan kemanusiaan yang cukup signifikan.
Terutama terkait dengan penggunaan tenaga kerja ilegal di mana banyak pekerja migran yang tidak memiliki dokumen resmi dilaporkan terlibat dalam proyek-proyek konstruksi, dan mereka sering kali menghadapi kondisi kerja yang buruk serta upah yang tidak adil.