Namun, ia menyadari bahwa tanggung jawab sebagai atlet nasional menuntut dedikasi dan pengorbanan yang besar.
“Rasanya sangat sedih meninggalkan anak yang baru lahir. Namun, demi Indonesia, saya harus berjuang,” lanjutnya.
Kisah Aisah menjadi gambaran nyata bagaimana atlet tidak hanya bertarung secara fisik dan mental di arena pertandingan, tetapi juga harus menghadapi pergulatan batin di balik layar.
Komitmen terhadap tugas negara sering kali menuntut pilihan-pilihan sulit yang tidak semua orang sanggup menjalaninya.
Sebagai atlet catur, Aisah dikenal memiliki ketenangan, ketelitian, dan kecermatan dalam mengambil keputusan. Nilai-nilai tersebut terbukti tidak hanya tercermin di papan catur, tetapi juga dalam sikap hidupnya.
Ia menunjukkan bahwa perjuangan seorang atlet perempuan tidak berhenti pada batas prestasi, melainkan juga pada keberanian mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan bangsa.
ASEAN Para Games 2025 sendiri merupakan ajang olahraga bergengsi yang mempertemukan atlet-atlet difabel terbaik dari kawasan Asia Tenggara.
Indonesia secara konsisten menempatkan ajang ini sebagai sarana pembuktian kualitas atlet nasional, sekaligus wadah untuk mengangkat nilai kesetaraan dan inklusivitas dalam olahraga.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!