Tambahan 1 juta euro sebagai bonus performa tersebut membuat total nilai transfer ini semakin mengesankan.
“Kalau 12 juta euro berarti hampir 128 miliar rupiah. Itu luar biasa,” ungkap Bung Ropan.
Tak hanya nilai transfer yang mencengangkan, Jay Idzes juga mencatatkan rekor sebagai pemain Indonesia pertama yang akan bermain di Serie A Italia. Ia juga tercatat sebagai pemain Asia Tenggara dengan gaji tertinggi di liga tersebut.
Kesuksesan Sassuolo merekrut Jay dan Fali Cande tak lepas dari kegagalan Torino melepas bek mereka, Saul Coco, ke Spartak Moscow. Torino berharap penjualan Coco bisa memberi ruang finansial untuk membeli Jay.
Namun, negosiasi dengan Spartak Moscow gagal karena harga jual Coco dianggap terlalu mahal, yakni sekitar 20 juta euro. Kegagalan ini dimanfaatkan dengan cepat oleh Sassuolo untuk menyalip Torino.
Bung Ropan menyebut strategi Sassuolo sebagai “counter attack sporadis dan mematikan.” Di saat banyak orang mengira Jay akan bergabung dengan Torino, Sassuolo justru diam-diam mengintip peluang dan berhasil meyakinkan pihak Venezia.
Pelatih Sassuolo, Fabio Grosso, yang merupakan legenda tim nasional Italia dan pahlawan Piala Dunia 2006, juga disebut berperan besar dalam meyakinkan Jay untuk bergabung.
Jay sendiri kabarnya tertarik dengan proyek jangka panjang Sassuolo di Serie A dan melihat potensi besar bersama klub tersebut.
Stadion Mapei, markas Sassuolo, akan menjadi panggung baru bagi Jay Idzes menunjukkan kemampuan terbaiknya. Harapan publik Indonesia pun mengiringi langkah Jay, yang diharapkan mampu tampil konsisten dan membawa harum nama Indonesia di kancah sepak bola Eropa.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!