Beberapa peluang emas yang didapat tak bisa ia konversi menjadi gol, dan hasil akhir pun menunjukkan kekalahan 0-1 yang menyakitkan bagi skuad Garuda Muda.
Padahal, ekspektasi terhadap Raven begitu tinggi. Ia menjadi andalan utama lini depan dan sempat menjadi pahlawan saat mencetak gol penyama kedudukan di menit akhir semifinal melawan Thailand.
Gol tersebut menjadi momen krusial yang membuat Indonesia bisa memaksakan adu penalti dan akhirnya lolos ke final. Namun sayangnya, performa gemilang itu tak berlanjut ke laga penentu.
Meski menjadi top skor, pencapaian Raven menuai perdebatan. Dari tujuh gol yang ia cetak, enam diantaranya berasal dari satu pertandingan melawan Brunei Darussalam, tim yang dianggap memiliki level permainan jauh di bawah Indonesia. Hanya satu gol yang benar-benar vital saat semifinal melawan Thailand.
Dalam laga-laga melawan Filipina, Malaysia, dan terutama Vietnam, Raven tidak mampu mencetak satu gol pun. Bahkan, saat peluang datang, penyelesaian akhirnya kurang meyakinkan.
Terlepas dari kritik tajam, banyak juga yang mengakui bahwa Raven masih sangat muda dan punya banyak waktu untuk berkembang.
Pencapaian sebagai top skor di ajang dua tahunan ASEAN ini tetap menjadi catatan positif dalam perjalanan kariernya. Ia hanya perlu membuktikan diri dalam pertandingan-pertandingan penting agar bisa kembali mendapatkan kepercayaan publik.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!