Justru pola permainan yang diterapkan cenderung monoton dan mudah dibaca oleh lawan.
Masuknya beberapa pemain kunci seperti Arkhan Fikri dan Hokky Caraka pun dilakukan sangat terlambat, sehingga tidak memberikan dampak signifikan dalam membongkar pertahanan Vietnam.
Di tengah gelombang kritik, tidak sedikit juga netizen yang mencoba memberikan dukungan kepada sang pelatih.
Mereka mengingatkan publik untuk tidak mencampuradukkan urusan pribadi dan profesional, serta tetap menghargai usaha yang telah dilakukan Gerald selama ini.
“Good luck coach. Kalian mengkritik, belum tentu bisa mencapai apa yang coach lakukan sampai saat ini,” tulis akun @fickry.shenopatty7497.
Namun tetap saja, mayoritas warganet kecewa dengan kegagalan Indonesia di final. Kekalahan 0-1 dari Vietnam di laga puncak membuat harapan publik untuk melihat Indonesia berjaya pupus, dan pelatih pun menjadi pihak yang paling disorot.
Kekalahan di final ASEAN U-23 Mandiri Cup ini menjadi pelajaran besar bagi sepak bola Indonesia, terutama di level usia muda. Publik berharap ada evaluasi menyeluruh, mulai dari pemilihan strategi, rotasi pemain, hingga pendekatan taktik dalam menghadapi lawan.
Kekecewaan suporter tentu wajar, namun menyerang ruang privat sang pelatih di tengah unggahan personal yang emosional dinilai tidak etis oleh sebagian publik***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!