Lindswell mengungkapkan cabor wushu yang dipersiapkan untuk ajang bergengsi internasional Youth Olimpiade bahkan terkena dampak dan tak bisa lanjut karena tidak memenuhi kuota.
"Atlet wushu junior yang kemenpora siapkan untuk YOUTH OLIMPIC GAMES 2026 juga kena dampaknya. Ini bukan perkara efisiensi tahun ini aja tapi sudah jadi tradisi, mereka dipanggil dan dipulangkan secara tidak layak," ungkapnya.
"Bukan karena sejawat kita dpt apresiasi lalu kita kepanasan. BUKAN, tapi lihat dulu siapa yang kasih. PRESIDEN di masa EFISIENSI di mana cabor lain dicuekin, sedangkan Cabor yang terkenal dan banyak peminat lebih diperhatikan," tuturnya.
Wanita asal Binjai, Sumatera Utara ini juga menegaskan bahwa tulisannya ini sebagai kritik yang ditujukan untuk mengoreksi peran pemerintah dalam memfasilitasi atlet, bukan untuk memicu perdebatan dengan masyarakat.
Ia akhirnya lantang bersuara karena ada banyak atlet berbakat dan sudah berusaha mengorbankan waktu hingga tenaga tapi tak bisa melanjutkan impiannya.
"Sudah kewajiban aku sebagai orang yang berkecimpung di dunia olahraga untuk speak up. Dan kritik ini bukan untuk fans atau atlit tertentu," katanya.
"Kritik ini bukan untuk diperdebatkan tapi akan berguna untuk membantu pemerintah koreksi diri agar tidak semakin terpuruk kinerjanya," tandasnya.
"Kalian tau kan berapa biaya naturalisasi atlet hingga gaji pelatih timnas? Yang kita harapkan adalah kemajuan disegala sektor cabang OLAHRAGA, sekian terima kasih," pungkasnya.
Kesenjangan ini juga pernah disoroti media asing usai atlet panjat tebing meraih medali emas di ajang Olimpiade Paris 2024.
Saat atlet Indonesia berhasil meraih prestasi, media asing justru menyoroti fasilitas latihan atlet cabang olahraga panjat tebing yang seadanya, bahkan ada yang sudah usang.
Meski berlatih dengan fasilitas seadanya, namun atlet-atlet seperti Veddriq Leonardo akhirnya bisa mengharumkan nama bangsa usai meraih medali emas pertama untuk Indonesia.