SketsaNusantara.id - Keputusan PSSI memecat Shin Tae Yong sebagai pelatih timnas kembali jadi perbincangan hangat usai Indonesia kalah telak dari Australia pada Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Bukan hanya dari para pengamat sepak bola dan para suporter, keputusan PSSI di bawah kepemimpinan Erick Thohir yang mendadak ganti pelatih pada awal Januari 2025 lalu ternyata juga menimbulkan tanda tanya besar bagi para pemain naturalisasi Timnas Indonesia.
Hal ini terungkap dari podcast yang diunggah Ziggo Sport beberapa waktu lalu. Tiga pemain kunci Timnas, Ragnar Oratmangoen, Kevin Diks, dan Calvin Verdonk, secara terbuka mengungkapkan kebingungan mereka atas langkah PSSI ini.
Dalam video podcast berdurasi 55 menit, Ragnar Oratmangoen menjadi yang pertama angkat bicara. Ia mengaku terkejut saat mendengar kabar pemecatan Shin Tae-Yong.
"Aku pikir, kita semua punya pemikiran yang sama. Kenapa harus sekarang (ganti pelatih)?" ujar striker berdarah Maluku ini dikutip SketsaNusantara.id dari video yang kanal YouTube Ziggo Sport pada hari Kamis, 20 Maret 2025.
"Kami semua kaget. Coach Shin orang Asia dia dari Korea punya cara kerja yang beda dengan pelatih Eropa, tapi saya pikir kerja dia bagus dan itu bawa dampak positif buat tim," imbuhnya.
Menurut Ragnar, pendekatan Shin yang fokus pada disiplin dan pembentukan chemistry antar pemain berhasil membawa Timnas ke level yang lebih kompetitif.
Hal tersebut terbukti dari kemenangan yang diraih Timnas Indonesia yang berhasil menang atas Arab Saudi pada bulan November 2024 lalu.
Ragnar tak memahami alasan PSSI tiba-tiba mengakhiri kerja sama di tengah fase krusial kualifikasi yang dinilai bukan saat yang tepat.
"Di lain hal itulah jalan yang kita pilih atau pilihan Presiden (PSSI, Erick Thohir), ketika kita ingin berusaha sebaik mungkin lalu ada pergantian pelatih, apakah ini saat yang tepat? itu masalahnya," ungkap Ragnar.
Calvin Verdonk juga mendukung pernyataan Ragnar. Bek kiri naturalisasi ini membantah anggapan bahwa Shin Tae-Yong adalah pelatih keras, seperti yang pernah dilontarkan Marc Klok.