"Masa memahami hal seperti ini harus diperjelas. 'Ya sabar, tunggu aja kan perlu adaptasi'. Nah itu poinnya. Kalo sudah tau butuh adaptasi, kenapa nekat mecat (pelatih lama) di tengah-tengah gini," tandasnya.
Ia menegaskan bahwa chemistry antara Shin Tae-Yong dan pemain, yang sudah terbangun selama lima tahun, diputus begitu saja.
Hasilnya, tim harus mulai dari nol dengan Patrick Kluivert, yang digadang-gadang membawa angin segar, tapi malah bikin performa timnas merosot.
"Flashback saja, pas vs China, kalah, banyak kritik STY. Tapi bukan berarti tiba-tiba kita minta 'STY out', karena itu beresiko," sambung dokter Tirta.
"Lalu waktu timnas (Indonesia) lawan Arab Saudi, kita menang, bounceback. Kita bisa nahan Australia 0-0 di GBK dan lawan Bahrain di kandang. Logikanya, chemistry udah top lah," ungkapnya.
"Kemudian STY dipecat, berarti pelatih baru dianggap lebih well. Akhirnya, kita kalah 5-1. Wajar dong fans frustasi," tambahnya.
"Gak ada fans yang seneng timnya dibantai 5-1, apalagi sebelumnya Indonesia bisa nahan 0-0 di GBK. Logis aja, wajar sebagian fans marah-marah," ujar Dokter Tirta.
Meski kecewa, dokter Tirta terus mendukung langkah timnas Indonesia selanjutnya dan berharap bisa menang melawan Bahrain apalagi nantinya laga akan berlangsung di GBK, Jakarta.
Ia bahkan menyindir balik perkataan Coach Justin soal berproses dan berharap pelatih bisa menunjukkan kinerja terbaiknya untuk membawa Timnas Indonesia lolos Kualifikasi Piala Dunia 2026.
"Rasah cangkeman bab prosas proses. Kalo cangkeman proses, pelatih sebelumnya jelas-jelas berproses. Walau tetap ada baik dan buruknya," kata dokter Tirta.
"Bagiku sekarang, Menang dan Lolos adalah harga mati. Jika nggak bisa bawa menang Timnas vs Bahrain, maka sebaiknya pelatih mundur saja. Gentle," tutupnya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini