Salah satu alasannya adalah karena masalah komunikasi yang menyebabkan kerjasama antara STY dengan tim tidak harmonis.
Keputusan mengganti pelatih di tengah perjuangan meraih poin krusial dalam kualifikasi Piala Dunia 2026 ini dianggap terlalu gegabah oleh banyak pihak, bahkan tak menjamin bisa membawa Timnas Indonesia jadi pemenang.
Patrick Kluivert kemudian diperkenalkan secara resmi pada 12 Januari 2025 dengan kontrak dua tahun plus opsi perpanjangan, datang dengan reputasi besar sebagai mantan pemain top dunia.
Didampingi asisten pelatih seperti Alex Pastoor dan Denny Landzaat, harapan pun membumbung tinggi.
Sayangnya, laga melawan Australia menjadi cermin bahwa adaptasi dengan pelatih baru tidak berjalan mulus.
Skuad Garuda yang pernah tampil solid kini terlihat kehilangan arah, dan skor 5-1 menjadi bukti nyata kegagalan strategi di lapangan.
Kekecewaan publik tak hanya tertuju pada Patrick Kluivert, tetapi jugapada Erick Thohir.
Keputusan untuk mengganti Shin Tae-Yong dianggap sebagai langkah yang tidak hanya berisiko, tetapi juga kurang tepat waktu.
Banyak pendukung Timnas yang menilai bahwa Erick Thohir gagal membaca momentum dan terlalu terburu-buru mengambil keputusan besar.
Tagar "Erick Thohir Out" pun mulai bermunculan, bersanding dengan "Kluivert Out", sebagai bentuk desakan agar sang Ketua Umum PSSI mundur dari jabatannya.
Warganet mengungkapkan kesalahan Kluivert yang dianggap tak menguasai teknik dan strategi dengan baik sehingga Timnas Indonesia kalah dari Australia.
Bahkan tagar "STY Back" juga ikut menggema sebagai dukungan pada Shin Tae-Yong kembali jadi pelatih Timnas Garuda.
"Menempatkan pemain-pemain penting tidak dalam posisinya, berusaha menguasai bola tapi nggak diimbangi oleh kualitas transisi baik. Pede banget pakai high defensive line lawan selevel Australia. Tim yang sangat oke di matchday 6, tiba-tiba hancur lebur di matchday 7. Pecat, Kluivert! Kembalikan Shin Tae-Yong!" komentar salah satu netizen.