Atas peristiwa yang dialaminya, ia pun meminta pihak Gojek untuk mengedukasi para drivernya jika pengguna bahasa isyarat tidaklah cacat, melainkan normal, sama seperti manusia pada umumnya.
“Sekalian edukasi driver kalau pengguna bahasa isyarat itu bukan ‘cacat’ tetapi mereka ‘normal’ cuma beda bahasa, budaya dan mode komunikasi saja,” masih dari unggahan Surya Sahetapy.
Justru menurut Surya, orang-orang tidak normal adalah para koruptor yang merugikan negara.
Meski mendapat penolakan dan disebut cacat oleh driver ojek online, Surya mengaku tidak sakit hati.
“Tapi gpp, saya pulang ke US bentar lagi kok. Karena ini memang lagi berlibur. Jadi ga terlalu sakit hati. Mumpung saya lagi kangen rasanya didiskriminasi setelah bertahun-tahun tidak dapat perlakukan kayak gini,” katanya lagi.
Baca Juga: Suami Jatuh Sakit, Siti Badriah Bersama Xarena Temani hingga Pulih di Rumah Sakit: GWS Daddy
Usai menumpahkan pengalaman tidak menyenangkannya dari driver ojek online, pihak Gojek menurut penjelasan Surya sudah menghubungi dirinya.
“@gojekindonesia sudah menghubungi via DM. Semoga banget kejadian ini merupakan kali terakhir yang tidak mencerminkan bagi banyak orang. Harapannya customer pengguna bahasa isyarat, tuli dan disabilitas dianggap penumpang biasa seperti penumpang non-disabilitas. Jadi dijemput dan diantar tanpa adanya judgement,” tandasnya.
Sebagai informasi, Surya Sahetapy sendiri merupakan tuna rungu (tuli).
Meski divonis tuli sejak usia 2 tahun, tak menyurutkan semangat Surya menempuh pendidikan.
Surya merupakan seorang aktivis pengguna bahasa isyarat dan menguasai bahasa Indonesia lisan, tulisan, isyarat.
Pria berusia 31 tahun itu juga menguasai bahasa isyarat Amerika, internasional, dan bahasa Inggris tulis.
***