Alasan pertama adalah kesamaan budaya karena sama-sama berasal dari Indonesia Timur.
Deva berasal dari Makassar tetapi tumbuh dan besar di Timika, Papua. Sedangkan Mikha merupakan keturunan Ambon dan Manado.
Deva merasa cocok dengan keluarga Mikha, dan menyebut tiap datang ke mereka seperti pulang ke rumah.
"Gua itu gampang banget berbaur sama keluarganya. Gampang akrabnya, gampang deketnya. Dan tiap gua pulang atau tiap ketemu, hadir di acara keluarganya Mikha, gua rasanya kek pulang ke rumah," kata Deva.
Alasan kedua adalah faktor Mikha yang membuatnya merasa nyaman.
Deva merasa bisa jadi diri sendiri selama bersama Mikha.
"Sama Mikha gua bisa ngomong apa adanya dan dia nggak papa, gitu. Cukup jadi diri sendiri, begitu juga Mikha," lanjutnya.
Menurut Deva, sebuah hubungan harus saling mengisi antara kedua belah pihak.
Deva juga menyinggung soal konsep nikah yang tidak ia pahami, yakni untuk mencari kebahagiaan.
Justru, menurutnya menikah itu membuat masalah yang tidak penting jadi lebih besar.
"Nikah itu jadi bikin masalah-masalah yang nggak penting jadi masalah. Makanya orang, gua nggak pernah paham konsep orang yang menyebut nikah itu cari bahagia," pungkasnya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!