Fanny juga menyebut bahwa dirinya sudah lama ingin mengungkapkan masalah ini, namun selalu merasa ditekan oleh pihak-pihak yang berpengaruh.
Ia mengaku sering menerima ancaman secara tidak langsung, namun kali ini Fanny memilih untuk tidak lagi takut.
“Ada yang bilang, ‘Fanny lupa kalau di belakang ini ada orang-orang penting?’ Iya, aku tahu. Tapi aku nggak takut. Meski aku sendirian, aku masih berpegang pada rasa keadilan,” lanjutnya.
Fanny menekankan bahwa langkahnya ini bukan sekadar demi mendapatkan bagian royalti yang adil, tapi juga untuk menuntut transparansi dan keadilan bagi pencipta lagu seperti dirinya dan Dhimas.
Sebagai pencipta lagu "Asmalibrasi" serta tujuh lagu lainnya seperti "Raksa", "Saturnus", "Pijaraya", "Haribaan", "Kala", "Samsara", dan "Aguna", Fanny berharap hak-haknya dapat diperbaiki dan dihormati.
Meski konflik ini belum menemukan titik terang, suara lantang Fanny Soegi menunjukkan perjuangannya dalam menuntut keadilan bagi para kreator musik yang sering kali menjadi korban sistem yang tidak adil.
Kisruh ini pun menarik perhatian publik, yang berharap masalah ini segera terselesaikan dengan baik dan royalti yang semestinya jatuh ke tangan yang berhak.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!