Aris, suami yang sangat Nisa sayangi justru mengalin hubungan terlarang dengan Rani, adik ipar sendiri. Ironisnya, Rani juga tak sungkan untuk menggoda Aris.
Menurut sutradara Hanung Bramantyo, film ini akan menampilkan berbagai hal yang bisa membuat penonton memetik banyak hikmah, waspada, serta kritis dalam menanggapi perselingkuhan.
2. Menormalisasikan kebiasaan yang sebenarnya buruk
Hanung Bramantyo menjelaskan, penghianatan yang diangkat dalam film ini berawal dari kebiasaan buruk yang dianggap biasa saja. Di negara ini, kebiasaan buruk yang dinormalisasikan dalam keluarga justru adalah titik mula masalah dan penyebab dari penghianatan.
Awal mula kejadian ini adalah dari hal yang dianggap biasa saja oleh masyarakat kita. Padahal itu sebenarnya buruk. Bahkan tidak dibenarkan dalam agama. "Penghianatan terbesar berangkat dari kejadian normal, yaitu adab kita.", ungkap Hanung Bramantyo.
3. Judul dikutip dari sebuah hadits
Judul dari film Ipar Adalah Maut dikutip dari sebuah hadits. Dalam proses pembuatan film tersebut, Hanung juga mengatakan bahwa pemuka agama juga ikut dilibatkan guna memberikan pandangan tentang perselingkuhan terhadap saudara ipar.
Perselingkuhan itu berawal dari kebiasaan buruk yang dinormalisasikan. Kebiasaan buruk yang dimaksud adalah berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Tanpa terkecuali, saudara ipar yang lawan jenis.
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Berhati-hatilah kalian masuk menemui wanita."
Lalu seorang laki-laki Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda mengenai ipar?”
Beliau menjawab, “Hamwu (ipar) adalah maut.” (HR. Bukhari no. 5232 dan Muslim no. 2172)
Jika kita berbicara tentang maut, maut bukan sekadar bermakna dan merujuk pada kematian. Jauh daripada itu, maut juga dapat bermakna sebagai bencana, yang mana dalam konteks film Ipar Adalah Maut merujuk pada perselingkuhan.