SketsaNusantara.id - Sabrina Chairunnisa belum lama ini mengungkap alasan di balik keputusannya mengikuti program summer school di Korea Selatan hingga ketakutan terbesarnya sebelum cerai dari Deddy Corbuzier yang tak banyak diketahui publik.
Langkah Sabrina ikut studi ke Korea ternyata bukan semata-mata untuk keperluan akademis, tetapi juga menjadi bagian dari persiapannya menghadapi perubahan besar dalam hidup usai berpisah dengan Deddy Corbuzier.
Seperti diketahui, publik sempat dibuat terkejut ketika Sabrina Chairunnisa dan Deddy Corbuzier mengumumkan bahwa rumah tangga mereka telah berakhir pada Oktober 2025.
Meski telah berpisah, keduanya mengaku tetap menjalin hubungan baik dan saling mendukung dengan berusaha menjalin komunikasi tanpa ada konflik maupun drama.
Di balik kabar perceraian itu, Sabrina ternyata telah lebih dulu mempersiapkan dirinya untuk menjalani kehidupan baru.
Dalam perbincangan sebuah podcast bersama Grace Tahier, Sabrina mengaku mengikuti program Yonsei International Summer School (YISS) di Yonsei University, Korea Selatan, sebagai proses penyembuhan diri sekaligus melatih kemandirian.
Program tersebut ia jalani pada pertengahan 2025, ketika proses perceraiannya dengan Deddy masih belum diketahui publik.
Sabrina mengungkapkan bahwa hal yang paling ia khawatirkan saat itu bukanlah status perceraiannya, melainkan kehilangan rutinitas yang telah dijalani bersama Deddy selama bertahun-tahun.
"Jadi sebenarnya yang aku paling takutin waktu itu ya, losing pattern," ungkap Sabrina, dikutip SketsaNusantara.id dari video podcast yang diunggah di kanal YouTube @gt.bodyshot pada hari Minggu, 29 Juni 2026.
Menurutnya, hubungan yang telah berlangsung lama secara tidak sadar membuat seseorang memiliki ketergantungan terhadap pasangan, termasuk dalam kebiasaan-kebiasaan sederhana sehari-hari.
"Karena kita enggak bisa dipungkirin, selama itu pasti ada lah hal-hal yang 'oh gue udah dependent sama dia'," lanjutnya.
Sabrina kemudian memberikan contoh rutinitas yang paling ia rasakan setelah memutuskan berpisah, seperti kebiasaan ngobrol pagi hari sebelum memulai aktivitas. Kebiasaan sederhana itu justru menjadi hal yang paling dirindukannya ketika harus menjalani hari seorang diri.