"It's not an easy decision, to be honest (Jujur, ini bukan keputusan mudah), tapi mau gimana lagi, I have my own priority now (sekarang aku punya prioritas lain)," ujarnya.
"Hopefully, ke depannya universitas-universitas di Indonesia nggak menjadikan absensi sebagai bobot utama syarat kelulusan atau syarat final exam kayak negara-negara lain ya," pungkasnya.
Pernyataan tersebut kemudian memicu diskusi luas di media sosial. Sebagian warganet memahami pandangan Sabrina dan menilai sistem pendidikan tinggi di Indonesia memang perlu terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi serta meningkatnya mobilitas mahasiswa, terutama bagi mereka yang harus melanjutkan studi atau bekerja di luar negeri.
Namun, tak sedikit pula yang memiliki pandangan berbeda. Menurut mereka, kehadiran di kelas bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari proses pembelajaran yang mencerminkan kedisiplinan, komitmen, serta tanggung jawab seorang mahasiswa.
Baca Juga: Bangga! Zee Zee Shahab Resmi Raih Gelar Doktor Seni di ISI Bali, Wisuda S3 Capai Prediksi Cumlaude
"Terkesan jadi salah kaprah kalau mempermasalahkan absensi. Orang berkuliah itu yang dilihat bukan hanya ilmunya, tetapi juga attitude, effort, dan komitmennya. Pintar saja tidak cukup. Mahasiswa juga harus punya kemauan untuk hadir di kelas. Pada akhirnya, melawan ego itulah yang menjadi tantangan terbesar, terutama bagi mahasiswa S2 dan S3. Di negara mana pun, kalau sudah menjadi mahasiswa ya tetap ada kewajiban mengikuti aturan kampus," kritik salah seorang warganet.
Pendapat serupa juga disampaikan warganet lainnya yang menilai sistem kehadiran tetap diterapkan di banyak perguruan tinggi luar negeri.
"Bangga dengan perjuangan Sabrina menyelesaikan pendidikannya. Tapi absensi juga bagian dari kedisiplinan. Semangat untuk Sabrina, karena masuk UI juga nggak mudah lho, kalau tidak bisa berkomitmen ikuti peraturan kampus meski kuliah di luar negeri juga sama aja," tulis warganet lainnya.
Baca Juga: Ashanty Berhasil Terbitkan Jurnal Internasional Q1 di Scopus, Biaya Publikasinya Bikin Melongo
"Di Inggris maupun Australia, absensi kehadiran tetap menjadi salah satu aspek penilaian. Kalau terlalu sering tidak mengikuti kelas juga bisa mendapat sanksi. Jadi kalau ingin mengejar karier, memang harus pintar banget menyesuaikan schedule kerjaan dengan jadwal perkuliahan. Kalau belum memungkinkan, ya lebih baik fokus menyelesaikan kuliah terlebih dahulu," imbuh warganet lainnya.
Di tengah beragam tanggapan tersebut, banyak pula warganet yang tetap memberikan dukungan kepada Sabrina atas keputusannya untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri yang menjadi motivasi bagi banyak orang.
Mereka berharap langkah yang diambilnya dapat menjadi awal perjalanan akademik baru sekaligus memberikan pengalaman yang bermanfaat bagi karier maupun pengembangan dirinya di masa depan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini