Banyak yang menyayangkan konten edukasi yang bertujuan untuk mengingatkan dampak makanan manis bagi kesehatan, justru disampaikan dengan kata-kata tak berempati dan bisa melukai perasaan orang lain, termasuk pedagang martabak manis.
"Maksudnya baik sih, ngingetin orang lain biar nggak makan manis banyak-banyak. Tapi sadar nggak, perkataan anda itu menyakiti pedagang martabak manis dan bisa menutup rezeki orang lain," tulis salah satu warganet.
"Sebelumnya makasih buat Steven Wongso yang udah ngingetin biar nggak makan manis berlebihan, tapi tolong dijaga omongannya. Di zaman sekarang lapangan kerja makin dikit, apa salah mereka yang jualan martabak manis, toh nyari duit halal, daripada nyolong," imbuh warganet lainnya.
"Gue nangkepnya dia kayanya mau nasehatin dirinya sendiri pake cara sarkas. Tapi, kita juga udah paham kok, minta abangnya bikin martabak pake gula dikit. Ada juga yang jual martabak less sugar, diimbangi olahraga aja habis makan manis biar gak ngerasa bersalah," komentar warganet lainnya.
Tak berhenti di situ, dalam unggahan lainnya, Steven Wongso juga sempat menyindir orang gendut yang disamakan dengan hewan.
Menurutnya, orang dengan obesitas (berat badan berlebih) dianggap 'tak punya otak' karena makan sesuatu tanpa henti meski sudah kenyang.
"Bagiku, orang gendut itu anj*ng. Permisi ya, apa bedanya kalian sama anjing? Semua makanan dihabisin tuh, padahal Tuhan menciptakan otak untuk mikir ya. Berhenti makan sebelum kenyang," ucapnya.
"Bahkan kelakuan mereka itu, orang gendut ini lebih rendah dari anj*ng. Anjing aja kalo udah kenyang, dikasih makan pun nggak dihabisin," pungkasnya.
Konten-konten unggahan Steven dibanjiri hujatan dari warganet, bahkan sampai diboikot penjual martabak manis. Ia juga mendapat sindiran dari Nicky Tirta karena unggahan tersebut bisa berdampak pada usaha bisnis kuliner.
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini