SketsaNusantara.id - Kabar membanggakan datang dari pemain Timnas Indonesia, Pratama Arhan. Di tengah kesibukannya sebagai pesepakbola profesional yang kini membela klub Bangkok United, Arhan akhirnya berhasil menyelesaikan sidang skripsi di Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), Semarang, pada Kamis, 2 April 2026.
Arhan menempuh pendidikan di Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Dalam skripsinya, ia mengangkat topik yang cukup relevan dengan dunia olahraga dan brand.
Momen sidang skripsi Arhan diunggah di akun Instagram resmi Udinus Semarang, ketika ia mempresentasikan skripsi berjudul "Peran Brand Ambassador, Social Media Marketing, dan Brand Familiarity dalam Meningkatkan Penjualan pada Sepatu Sepak Bola Mizuno".
Baca Juga: Lulus S2 dari Kampus di Belanda, Rachel Amanda Tunjukkan Ijazah Master: Akhirnya ke Amsterdam Lagi…
"Arhan berhasil menyelesaikan Seminal Hasil penelitiannya dengan baik mengangkat topik yang relate dengan dunia bola, social media marketing, dan brand di tengah kesibukannya," tulis Udinus dikutip SketsaNusantara.id dari video yang diunggah akun Instagram @udinusofficial pada hari Jumat, 3 April 2026.
"Respect untuk seluruh Dosen Pembimbing dan Penguji yang selalu mendampingi perjalanan Arhan selama kuliah. Arhan membuktikan bahwa karir dan pendidikan dapat dilakukan secara seimbang hingga keinginannya meraih mimpi mendapat gelar Sarjana Manajemen tercapai," pungkasnya.
Menariknya, Arhan menjadi bagian dari lulusan pertama Udinus yang akan menerima ijazah berbasis blockchain. Lantas, apa itu ijazah 'blockchain' dan bedanya dengan ijazah pada umumnya?
Secara sederhana, ijazah blockchain merupakan dokumen kelulusan yang datanya disimpan menggunakan teknologi blockchain dengan sistem pencatatan digital yang bersifat transparan.
Ada beberapa alasan utama mengapa beberapa kampus termasuk Udinus Semarang tempat Arhan kuliah mengeluarkan dokumen kelulusan dengan menerapkan sistem ini.
Salah satunya adalah karena data dalam blockchain bersifat immutable yang tidak dapat diubah atau dihapus.
Setiap data yang masuk akan memiliki "sidik jari digital" (hash) yang unik dan terenkripsi, sehingga keasliannya dapat diverifikasi kapan saja.
Berbeda dengan ijazah konvensional yang rawan dipalsukan, sistem blockchain menawarkan tingkat keamanan yang jauh lebih tinggi.