Ia bahkan dilabeli sebagai "pick me girl", istilah slang yang merujuk pada seseorang yang dianggap mencari validasi atau perhatian publik dengan menonjolkan diri seolah lebih unggul dari orang lain.
"Jujur, marketing brand dan BA-nya sangat tidak empatik di tengah issue social sulitnya para pencari kerja cari nafkah," komentar akun @nafzii_.
"Pril, lo tau gak? Kamu kaya sengaja pamer bisa makan enak di depan orang yang kelaparan dan cuma buat nunjukin kalo kamu bisa pilih-pilih makanan," imbuh akun @daniwijaya029.
"Pentingnya pelajaran etika bisnis. Angka pengangguran di Indo lagi tinggi apalagi badai PHK kemarin karena banyak perusahaan struggle gak bisa bertahan karena daya beli masyarakat turun. No respect banget sama Prilly & Sensodyne, gak gini juga gimmick marketing kalian nyari engagement publik," kritik akun @chocolateva19.
Banyak yang mengkritik Prilly Latuconsina yang diangap tidak peka terhadap kesulitan mencari kerja masyarakat luas, melalui kampanye Sensodyne dengan memanfaatkan tagar #OpenToWork untuk promosi.
Hingga kini, Prilly belum memberikan tanggapan ataupun klarifikasi terkait tudingan tersbut. Terbaru, bintang film "Danur" itu sedang sibuk mempromosikan buku terbarunya bertajuk "Retak, Luruh, Kembali Utuh" yang dirilis akhir 2025 lalu.
Di tengah banyaknya kritikan publik, Prilly sebelumnya sempat menegaskan bahwa motivasinya memasang status open to work di LInkedin adalah untuk mengeksplorasi pengalaman baru, bukan karena kekurangan kesempatan di dunia hiburan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini