“Ceritamu bukan sekedar cerita. Ia adalah peringatan, cermin, dan tali penolong,” imbuhnya.
Cerita Aurelie yang ditulis apa adanya diharapkan dapat menumbuhkan keberanian para korban atau penyintas untuk mengikuti jejak yang sama dengan Aurelie.
“Karena aku sungguh percaya bahwa melalui kejujuranmu, banyak anak perempuan muda dan juga anak laki-laki akan lebih cepat mengenali tanda-tandanya,” katanya.
Menurut Emil, apa yang dilakukan oleh Aurel bukan tanpa konsekuensi dan ada harga yang harus dibayar.
“Penyembuhan tidak selalu nampak lantang, dan keberanian tidak selalu datang tanpa konsekuensi,” ungkapnya.
Namun setidaknya, rasa sakit yang Aurelie rasakan dapat dirilis dengan cara yang positif.
“Namun dengan mengatakan kebenaran, kamu telah mengubah rasa sakitmu menjadi perlindungan bagi orang lain,” ujarnya.
Ketika korban lain memilih untuk diam karena takut, Emil merasa kagum karena Aurelie bisa bersuara dengan lantang.
"Terima kasih karena telah berani ketika diam sebenarnya lebih mudah," imbuhnya.
Tanpa disadari, buku Aurelie bisa menjadi media bagi korban lain untuk segera keluar dari hubungan yang penuh dengan kekerasan.
“Dan ia akan menyelamatkan nyawa dengan cara-cara yang mungkin tak akan pernah sepenuhnya kamu lihat,” tutupnya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!