showbiz

Bene Dion Kembali Duduk di Kursi Sutradara lewat Pulang Kampung, Film Musikal Batak Sarat Makna

Sabtu, 3 Januari 2026 | 08:30 WIB
Poster Pulang Kampung menampilkan Bene Dion sebagai penulis dan sutradara. (Instagram/kincirdotcom)

 

SketsaNusantara.id - Bene Dion kembali menegaskan kiprahnya sebagai kreator di industri perfilman Indonesia.

Meski namanya belakangan semakin populer di layar lebar, terutama setelah terlibat dalam film Agak Laen yang mencetak sejarah sebagai salah satu film Indonesia terlaris sepanjang masa.

Bene kini mengumumkan proyek terbarunya sebagai penulis dan sutradara berjudul Pulang Kampung.

Baca Juga: Momen Bene Dion Ikutan War Takjil Bersama Anak dan Istrinya Inilah Perbedaannya dari Tahun Lalu dan Sekarang

Dilansir SketsaNusantara.id dari informasi yang disampaikan melalui unggahan akun Instagram @kincirdotcom.

“Setelah ‘Ngeri-Ngeri Sedap’ (2022) & ‘Ganil Genap’ (2023), Bene Dion akan kembali ke belakang layar dan menggarap film barunya berjudul ‘Pulang Kampung’ yang merupakan film musikal batak,” tulis akun tersebut.

Pernyataan ini menegaskan bahwa Pulang Kampung menjadi penanda kembalinya Bene Dion ke peran kreatif utama di balik layar, bukan sekadar sebagai aktor.

Baca Juga: Selamat! Bene Dion Dikarunia Anak Pertama, Ceritakan Perjuangan Sang Istri: 15 Jam...

Film Pulang Kampung sendiri disebutkan telah masuk dalam rencana penayangan tahun ini.

“Filmnya sendiri direncanakan tayang tahun ini,” tegas akun tersebut menyampaikan jika film itu akan tayang di tahun 2026 ini.

Informasi ini langsung memicu antusiasme publik, terutama penonton yang sebelumnya terhubung secara emosional dengan karya-karya Bene Dion.

Sebagai kreator, Bene Dion dikenal konsisten mengangkat cerita keluarga, relasi orang tua dan anak, serta konflik identitas yang berakar kuat pada budaya lokal.

Kesuksesan Ngeri-Ngeri Sedap menjadi bukti bahwa cerita yang sederhana, personal, dan jujur mampu menyentuh penonton lintas latar belakang.

Melalui Pulang Kampung, Bene kembali mengangkat budaya Batak, namun dengan pendekatan yang berbeda. Jika sebelumnya konflik keluarga menjadi poros utama, kali ini ia memilih medium film musikal sebagai ruang ekspresi.

Halaman:

Tags

Terkini