showbiz

Fiersa Besari Ungkap Kisah Haru sang Istri, Tangis dan Patah Hati Saat Dampingi Anak di Sekolah

Sabtu, 23 Agustus 2025 | 21:00 WIB
Momen Fiersa Besari dan Aqia bersama putri mereka, Kinasih. (Instagram/fiersabesari)

Sayangnya, ajakan itu justru membuat Kinasih menangis dan melontarkan kata-kata yang cukup menyakitkan bagi ibunya, di hadapan teman-teman dan orang tua lain.

“Kinasih nggak suka. Ibu paling jahat sedunia,” ucap Kinasih menurut keterangan dari Fiersa Besari dalam ceritanya.

Aqia pun akhirnya membawa pulang Kinasih. Dalam perjalanan, ia tidak kuasa menahan tangis.

“Aqia yang menyetir mobil (dengan Kinasih duduk di bangku tengah) menangis sepanjang jalan pulang ke rumah,” tulis Fiersa.

Sesampainya di rumah, suasana semakin emosional. Fiersa yang sedang mengedit video mendengar Kinasih berteriak dan membanting pintu kamar. Sementara itu, Aqia hanya bisa menangis di ruang tamu, merasa patah hati dengan ucapan anaknya.

Dalam curahan hatinya kepada Fiersa, Aqia berkata bahwa ia merasa menjadi ibu paling gagal di dunia. “Aku baru sesakit hati ini. Kayaknya aku ibu paling gagal sedunia,” kata Aqia, sebagaimana dituliskan Fiersa dalam unggahannya.

Mendengar itu, Fiersa merasa sangat sedih. Ia kemudian menegur Kinasih dengan lembut, tanpa memaksanya langsung meminta maaf. Akhirnya, Kinasih mulai merasa bersalah dan mendatangi ibunya untuk meminta maaf.

Dalam lanjutan ceritanya, Fiersa menuturkan bahwa peristiwa tersebut memberinya banyak pelajaran. Ia mengingat pesan seorang guru yang mengatakan, “Memaklumi tapi jangan mewajarkan.”

Fiersa juga merenungkan pengalamannya sendiri ketika kecil. Ia teringat bagaimana sering menangis hingga membuat sang ibu ikut sedih. Dari situ, ia memahami bahwa tantrum anak adalah bagian dari proses tumbuh kembang yang harus disikapi dengan kesabaran.

“Saya jadi memikirkan beberapa hal. Pertama, saya teringat senakal apa diri saya waktu kecil, sampai Ibu sering menangis. Oh, ternyata ini rasanya,” tulisnya.

Selain itu, ia menilai bahwa ada hikmah di balik kejadian tersebut. Kinasih berani menyuarakan pendapatnya, meski caranya belum tepat.

“Kinasih berani bersuara, tidak takut untuk menyampaikan pendapatnya. Tidak ada sekat seperti yang saya dan Aqia punya dengan orang tua kami. Cuma ke depannya, memang harus diarahkan,” tambah Fiersa.

Di akhir ceritanya, Fiersa menegaskan bahwa proses belajar tidak hanya terjadi pada anak, tetapi juga pada orang tua. Baginya, pengalaman pahit ini adalah pelajaran berharga bagi seluruh keluarga.

“Karena belajar adalah proses seumur hidup, bukan hanya bagi Kinasih, tapi juga bagi ayah dan ibunya,” tutupnya.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!

Halaman:

Tags

Terkini