SketsaNusantara.id - Maudy Ayunda adalah salah satu publik figur yang tidak lama ini mengulik obrolan menarik dengan seorang psikiater sekaligus founder of mental health di Indonesia.
Melansir dari akun Youtube Maudy Ayunda, pada obrolan tersebut Maudy menjamah topik yang mana membahas suatu hubungan dan mengapa hubungan itu penting?
Dalam Harvard study tentang development atau perkembangan, Maudy Ayunda mengungkapkan bahwa hubungan tidak hanya terjadi pada seputar karir saja, melainkan juga hubungan anak dan orang tua, khususnya toxic parenting dan bagaimana tips mengatasi hal tersebut.
Dalam kasus relationship ini, hubungan dekat dianggap sebagai prediksi faktor terdekat dalam kesejahteraan seseorang. Maudy menyebutkan bahwa hubungan awal ini biasanya terjadi antara orang tua dengan anak.
Orang tua atau pun adult caregiver yang tinggal dengan anak merupakan faktor pembentuk bagaimana pandangan anak dalam melihat dunia, sebagaimana yang diungkapkan dalam pembicaraan yang ada dalam akun Youtubenya.
Relationship orang tua dengan anak ini cenderung tidak terlihat secara nyata, namun ada beberapa hal yang membuat anak seperti aman-aman saja. Tapi di lain sisi, ada seorang anak yang cemas ketika orang tuanya pergi.
Selain itu, ada pula relationship seperti orang tua dan anak yang berantakan, karena anak merasa banyak penolakan. Sehingga, ia seperti asik sendiri dan tidak biasa membangun relationship.
Ada pula relationship anak dan orang tua yang muncul dalam tindakan kekerasan dari rumah yang keos atau penuh konflik. Sehingga ketika dewasa, seorang anak menjadi bingung bagaimana menempatkan dirinya.
“Biasanya anak-anak yang sering dapat penolakan cenderung akan sulit percaya sama orang lain, ambisius, sangat mandiri, dan akhirnya merasa ngak perlu orang lain,” ungakap Dr. Elvine Gunawan dilansir SketsaNusantara.id dari Youtube Maudy Ayunda.
Baca Juga: Jadi Bulan-bulanan Netizen Hingga Banyak Job Dicancel, DJ Panda Akui Kena Mental
Masih dalam bahasan toxic parenting, Dr. Elvine sempat membahas bahwa anak-anak yang mendapatkan pola asuh tidak konsisten cenderung menjadi orang yang people pleaser (sulit berkata tidak).
Hal ini dilakukan anak agar orang tua tetap mau membersamainya. Namun, seiring berjalannya waktu akan menimbulkan masalah lain entah dalam hubungan pertemanan atau hubungan romantis. Karena ada fear of rejection, sebagaimana yang dibahas dalam pernyataan psikiater tersebut..