"Ini lebih horor dari drakor aslinya, apalagi kalo punya dospem (dosen pembimbing) killer, tetep semangat ya rek," komentar akun @mentariratiie.
"Nah kalo gini kan jelas, bukan hanya sekedar ikut trend aja tapi malah ngumbar aib. Kreatif kata 'S' di ubah jd Skripsi," imbuh akun @light_itsme.
"Di mata orang lain itu hanyalah kacamata biasa, tapi di mata mahasiswi ini kacamata itu dapat melihat garis dari seorang seberapa banyak mereka bimbingan skripsi. Keren nih ubah tren negatof jadi positif, tapi yang pake kacamata belum pernah bimbingan ya, pantes sumringah karena belum waktunya skripsi, hehehe," komentar akun @kheymari_.
Bahkan, apresiasi datang dari Dr. Hendi Pratama, dosen sekaligus motivator transformasi pendidikan yang mendirikan lembaga Edu Trans.
"Keren luar biasa. Konten ini punya makna mendalam," tulis Hendi melalui akun Instagram @hendipratama.
Baca Juga: Jelang Kemerdekaan Prabowo Luncurkan Logo Kemerdekaan RI ke 80, Ini Makna Filosofis-nya
Sebelumnya, konten S Line ini menuai kritik karena dianggap mengumbar aib pribadi seseorang. Tren yang lagi viral di medsos ini terinspirasi dari drakor berjudul S Line.
Dalam drama aslinya, seorang wanita bisa melihat garis merah di atas kepala orang lain yang menunjukkan seberapa sering orang tersebut berhubungan intim.
S Line populer karena menyuguhkan kisah seru dan garis merah dalam drama ini ternyata mengungkapkan rahasia terpendam yang bisa menguak kasus kriminal.
Populernya drakor ini kemudian ditiru sejumlah konten kreator di Indonesia. Mereka mengedit foto orang lain dengan menambahkan garis merah, lalu menjadikannya bahan candaan.
Konten unggahan mahasiswa Unmuh Jember membuka diskusi publik dan menjadi pengingat bahwa tren viral S Line yang berkonotasi negatif bisa dimanfaatkan menjadi konten bermakna positif untuk mengedukasi sekaligus memberi semangat bagi para pejuang skripsi.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini