Dilansir SketsaNusantara.id melalui akun psikologi klinis @analisachannel, Analisa Widyaningrum juga menjabarkan pandangannya tentang makna toxic relationship itu sendiri.
"Sebenernya toxic relationship itu apa sih? Yaitu suatu hubungan yang ketika salah satu pihak merasa tidak nyaman, tapi secara konsisten jadi lebih banyak tidak nyamannya dibanding nyamannya," jelas Analisa.
Menurut psikolog klinis tersebut, toxic relationship tidak hanya terjadi pada hubungan percintaan atau lingkungan kerja saja, tetapi juga dalam keluarga bahkan dengan tetangga.
Melansir dari akun YouTube @analisachannel, bila hubungan toxic ini tidak diatasi, dapat berakibat pada kelelahan emosional, perasaan dimanipulasi, hingga keinginan untuk segera menjauh dari lingkungan.
Selain itu, hubungan toxic dapat memunculkan fase honeymoon semu, yaitu kondisi ketika seseorang menjadi galau: apakah ingin bercerai, putus, atau bahkan resign.
Menurut akun @analisachannel, dalam toxic relationship, rasa tenang hanya berlangsung sementara. Analisa juga menyebut ada faktor yang menyebabkan seseorang menjadi toxic.
Menurut Analisa, seorang peneliti toxic relationship bernama Glass mengatakan bahwa penyebab seseorang menjadi toxic adalah perasaan iri dan cemburu, sebagaimana diungkapkan akun @analisachannel.
Kebutuhan afeksi seseorang bisa tervalidasi ketika ia bersikap toxic terhadap orang lain. Sehingga ia berusaha menutupi kekurangan yang dimiliki dan menghindari perasaan bersalah.
Situasi ini juga kerap muncul ketika seseorang pernah mengalami bullying, lalu kemudian ingin membully orang lain.
Untuk menghadapi toxic relationship, seseorang perlu melakukan setting boundaries atau menetapkan batasan personal agar tetap sehat secara mental, demikian dijelaskan akun @analisachannel.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!