Baginya, ini adalah konflik emosional antar karakter dibungkus dalam atmosfer horor yang kuat.
“Gue tipikal orang yang gak suka dikotak-kotakin,” ujar Tarra Budiman.
Kalimat tersebut seolah menjadi kunci dalam keputusan besarnya kali ini. Sebagai seorang aktor, Tarra Budiman ingin mencoba berbagai genre dan peran.
Ia merasa bahwa seorang aktor harus siap menjadi “gelas kosong”, yang mana siap diisi dengan tantangan baru dan karakter yang berbeda dari sebelumnya.
Saat ditawari naskah “Kitab Sijjin & Illiyyin”, Tarra sempat ragu. Tapi setelah membaca sinopsis dan memahami alurnya, ia langsung merasa bahwa film ini akan menjadi hal penting dalam perjalanan aktingnya.
Ia ingin dikenal bukan hanya sebagai karakter lucu atau “Mamang Osa” semata, melainkan sebagai aktor yang mampu membawakan peran dalam berbagai warna cerita.
“Pas lihat sinopsisnya, wah gila juga ternyata ya. Di sini yang kita ditempatkan tuh bukan cuma kengeriannya karena gornya ini, tapi drama yang dibalut dengan kengerian ini ternyata kental sekali.”
Tarra juga menyebut bahwa film ini akan menjadi tantangan akting terbesarnya tahun ini.
Ia ingin membuktikan bahwa dirinya bisa keluar dari zona nyaman yang selama ini melekat padanya. Ia pun berharap para penonton akan bisa melihat sisi baru dari dirinya sebagai aktor.
“Oke, tantangan 2025 saya itu adalah ini. Kalau saya bisa bermain di sini, orang gak akan melihat lagi Tarra ber-cosplay jadi Mamang Osa.”
Dari pengakuannya, jelas bahwa Film “Kitab Sijjin & Illiyyin” merupakan bentuk keberaniannya sebagai seniman untuk menghadapi ketakutannya. Ia tidak hanya menaklukkan rasa takut terhadap genre horor, tapi juga membuka jalan baru untuk eksplorasi karakter yang lebih kompleks dan mendalam.
Kini tinggal menunggu tanggal 17 Juli 2025 untuk melihat sejauh mana keberanian Tarra Budiman menghasilkan karya di layar lebar.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini