Fanny pertama kali bertemu Hajime Kondoh, yang saat itu masih menjadi General Manager Marugame Udon Indonesia.
Pria Jepang itu mencuri perhatian Fanny, karena sifatnya yang tidak angkuh atau otoriter justru sebaliknya.
Papa Udon dikenal hangat dan rendah hati, dan dia tidak segan membantu orang lain saat gerai penuh sesak, seperti membersihkan mangkuk atau menyambut pelanggan.
Papa Udon Mualaf dan Lamar Fanny Kondoh
Komunikasi antara Fanny dan Hajime Udon tidak serta-merta berkembang menjadi hubungan romantis setelah pertemuan awal yang membekas di Semarang.
Semuanya berjalan secara bertahap. Mereka tetap melakukan rutinitas kerja masing-masing, tetapi mulai dari saat itu mereka menjadi lebih nyaman.
Seiring waktu, Hajime Udon menjadi lebih ramah dan perhatian. Hubungan mereka juga berkembang natural. Hajime akhirnya bertemu keluarga Fanny di Surabaya.
Saat itulah ia secara resmi memperkenalkan diri kepada keluarga Fanny dan mengungkapkan maksudnya.
Ia memberikan cincin untuk menunjukkan komitmennya. Hajime Udon mengambil keputusan untuk menjadi mualaf.
Almarhum Ammer Azzikra membimbing proses mualaf di Pacific Place, Jakarta, untuk benar-benar menjalankan ibadah rumah tangga yang sejalan dengan nilai yang diyakini bersama.
Pejuang Dua Garis Biru
Usai menikah pada tahun 2017 lalu, Fanny dan sang suami kerap berdoa untuk segera diberi momongan.
Awalnya, mereka mencoba secara alami, berdoa, menjaga pola makan, dan bahkan menjalani pengobatan tradisional, tetapi masih belum ada hasil.