"Jadi kalau menurut saya ngunduh mantu harus pribadi betul dari rumah ke rumah. Kalau di gedung menurut saya agak aneh karena harus betul-betul menghadirkan lingkungan rumah dan keluarga besar dalam penerimaan kedua penganten. Kalau di gedung menurut saya dalam konteks adat, ini adatnya sudah hilang," tandasnya.
Secara teknis, elemen adat seperti busana Jawi Jangkep, tarian Reog Ponorogo hingga ornamen tradisional yang dihadirkan di acara ngunduh mantu Al Ghazali, menunjukkan upaya Ahmad Dhani melestarikan budaya Jawa.
Namun, pelaksanaan acara di Hall JCC dengan skala besar dan sentuhan modern dianggap mengurangi nilai kesakralan dan keintiman yang menjadi inti dari tradisi ngunduh mantu.
Acara ini sejatinya merupakan simbol yang menyatakan penerimaan adanya anggota keluarga baru dan idealnya digelar di lingkungan rumah pihak pria.
Meski demikian, dalam praktiknya, tradisi mantu dan ngunduh mantu kini kerap disesuaikan dengan gaya hidup modern.
Banyak keluarga memilih gedung mewah sebagai lokasi resepsi demi menampung tamu dalam jumlah besar, seperti yang dilakukan keluarga Ahmad Dhani.
Meski kaya akan elemen budaya, pemilihan venue hingga skala acara besar-besaran dalam acara ngunduh mantu Al Ghazali tetap menuai kritik karena dianggap kurang sesuai dengan tradisi ngunduh mantu yang intim dan sakral dihadiri keluarga besar.
Kritik yang diungkapkan budayawan Jawa, Prapto Yuwono juga menunjukkan kepedulian masyarakat menjaga warisan budaya di tengah gaya hidup modern, sekaligus mengingatkan pentingnya memahami makna di balik setiap tradisi.
"Semua adat ini kan diwariskan leluhur, ada norma, makna dan aturan yang harus dilaksanakan. Tapi dalam perubahan-perubahan zaman, masyarakat ini akhirnya banyak yang disesuaikan, dievaluasi, dibuat sesuatu yang baru, dan akhirnya mengurangi makna dari adat aslinya itu sendiri," tutur Prapto.
"Jadi, kalau yang dilakukan sekarang dalam masyarakat urban ini agak berpura-pura melakukan adat. Padahal enggak, apalagi ini keluarga dalam lingkup dunia entertain yang dibikin sedemikian rupa nggak cocok lagi dengan adat aslinya," pungkasnya.
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini