Dengan biaya setara harga mobil Rolls-Royce tanpa sponsor, Ahmad Dhani menyebut acara ini sebagai "pesta budaya terbesar" dan termegah sepanjang masa.
Acara ini juga peristiwa budaya sebagai acara menampilkan beragam kesenian yang sekaligus melestarikan budaya Jawa. Meski begitu, acara ini menuai kritik dari budayawan Jawa karena dianggap melenceng dari tradisi ngunduh mantu.
Disadur SketsaNusantara.id dari buku Kebudayaan Jawa karya Koentjaraningrat pada tahun 2009, acara ngunduh mantu seharusnya digelar di kediaman keluarga pria sebagai simbol penerimaan menantu dalam lingkungan keluarga inti.
Pelaksanaan acara ngunduh mantu di gedung mewah dinilai kurang mencerminkan makna sakral tersebut. Budayawan Jawa, Prapto Yuwono, berpendapat bahwa memindahkan acara ke venue besar dengan ribuan tamu justru lebih menyerupai resepsi modern.
Padahal, ngunduh mantu tradisional umumnya bersifat intim dan dilengkapi prosesi adat seperti kenduri atau arak-arakan di sekitar lingkungan rumah.
"Acara sakral ini seharusnya digelar di rumah masing-masing baik mantu maupun ngunduh mantu sebenarnya nggak ada masalah jika tempatnya di gedung yang lebih besar, tapi esensi adat ini penting," ucap budayawan Jawa, Prapto Yuwono dikutip dari kanal YouTube Cumi Cumi.
"Kalau mantu adalah perhelatan yang dilakukan pihak putri, kalau ngunduh yang menyelenggarakan pihak putranya. Ini maksudnya untuk membawa penganten putri itu ke dalam rumah keluarga besarnya," sambungnya.
"Jadi eseinsinya untuk diperkenalkan kepada tetangga-tetangganya, kepada semua keluarga besar sehingga pihak keluarga penganten putri ini punya kesempatan untuk saling mengenal. Nah makanya penting unduh mantu ini diadakan di lingkungan rumahnya begitu," tuturnya.
Pemilihan konsep Javanese Royal Wedding juga dikritik karena, meskipun kental dengan ornamen Jawa, tetapi dirasa sangat berlebihan dan cenderung bergaya modern ala selebriti, sehingga mengaburkan esensi adat aslinya.
Beberapa budayawan menilai, elemen seperti panggung konser megah dan penampilan band lebih cocok untuk hiburan modern daripada ritual adat yang sederhana namun sarat makna.
"Jadi kalo dilihat acara ngunduh mantu ini bukan bagian adat lagi tapi sudah menjadi acara hiburan masyarakat urban," ucap Prapto.
"Ngunduh mantu (Al Ghazali) ini hanya sebagai suatu perhelatan, suatu upacara yang memang seolah-olah masih melaksanakan adat. Tapi sebetulnya ini lebih kepada entertain-nya begitu dengan sedemikian rupa menampilkan kesenian budaya Jawa," imbuhnya.