Dalam acara tersebut, ia mengundang anak-anak yatim piatu dan berbagi kebahagiaan bersama keluarga serta kerabat dekat, termasuk pihak keluarga mendiang suaminya, Dali Wassink.
“Agamaku Islam dan aku cinta tuhanku dan agamaku, tapi bukan berarti kita tidak bisa saling toleransi,” lanjutnya.
Langkah yang diambil Jennifer Coppen menuai reaksi beragam di jagat maya. Sebagian netizen menyampaikan kekaguman atas sikap toleran dan cinta budaya lokal, namun sebagian lain mempertanyakan konsistensinya dalam beragama.
“Ksian islam tapi gitu penampilan,” komentar salah satu pengguna.
“Penasaran agama mama Kamari,” tulis netizen lainnya.
“Serius tanya doang ini ya. Kalau tinggal di Bali, meskipun muslim, kalau syukuran rumah baru harus gini ya?,” tanya seorang warganet yang tampak bingung.
Namun, di balik komentar bernada nyinyir, banyak juga yang membela dan memberikan dukungan kepada Jennifer. Mereka menilai sikapnya patut diapresiasi karena mampu mengharmonikan nilai-nilai spiritual dan budaya setempat.
“Dia bangun rumah di tanah Bali, maka harus dibuatkan upacara seperti itu. Jangan pada ribet deh netijen. Selamat jeeen, berkah rumahnya PROUD OF YOU,” tulis seorang warganet.
“Betul banget, kalo ga ngerti budaya orang, jangan banyak protes ya beb, semua ada tata caranya, walaupun kita Islam, tapi kita harus ikut tata cara budaya mreka,” imbuh netizen lain.
“Mungkin adat orang sana gitu, yang penting tetap toleransi, tapi jangan masuk ke keyakinan,” bela netizen lainnya.
Menyadari adanya pro dan kontra di tengah publik, Jennifer pun angkat suara. Ia dengan tenang menanggapi komentar-komentar tersebut melalui unggahannya.
Ia menegaskan bahwa langkah tersebut bukan bentuk berpindah agama, melainkan wujud nyata toleransi. Sebab, menurut Jennifer, rumah yang dibangunnya berdiri di tanah kelahirannya, Bali, yang adat dan budayanya telah menjadi bagian dari hidupnya sejak kecil.