showbiz

Apa itu Eurovision? Kontes Menyanyi Eropa yang Bikin Anggun C Sasmi Dituding Jadi Pendukung Israel, Ternyata Kerap Menuai Kontroversi

Senin, 24 Februari 2025 | 08:43 WIB
Potret Anggun C Sasmi yang dituding jadi pendukung zionisme yang dilakukan Israel gegara bikin live tweet saat jadi juri di Eurovision Song Contest. ( Instagram/anggun_cipta)

Kendati demikian, beberapa negara non-Eropa seperti Australia dan Israel ternyata juga bisa ikut berpartisipasi. Kontes ini dikenal dengan penampilan yang beragam dan spektakuler, serta sistem penjurian yang melibatkan juri profesional dan penonton dari berbagai negara.

Meskipun tujuan utama diadakan Eurovision adalah untuk merayakan persatuan berbagai negara dalam bermusik, kontes ini sering kali menuai kontroversi hingga menjadi arena perdebatan politik dan sosial.

Salah satu isu yang kerap muncul adalah partisipasi Israel dalam kompetisi ini. Sebagai negara non-Eropa, keikutsertaan Israel didasarkan pada keanggotaan mereka di European Broadcasting Union (EBU).

Namun, konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina membuat partisipasi Israel menuai kritik.

Banyak pihak termasuk musisi dunia yang menilai Eurovision dianggap pro Israel karena memperbolehkan peserta dari negara tersebut ikut berpartisipasi dalam kompetisi tersebut, padahal tindakannya terhadap Palestina menuai kecaman

Sejak 2024 lalu, Eurovision memicu protes warga dunia bahkan muncul gerakan boikot lantaran Israel tetap diperbolehkan ikut kompetisi.

Hal ini berbanding terbaik dengan Rusia yang pernah dilarang berpartisipasi ikut kompetisi Eurovision Song Contest akibat konflik negara tersebut dengan Ukraina.

Keputusan pihak penyelenggara menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi kebijakan EBU sehingga kontes musik tersebut dianggap mendukung isu politik Israel.

Selain itu, salah satu kontestan asal Portugal bernama Iolanda juga pernah mengungkapkan soal penolakan saat ia ingin tampil nail art keffiyeh sebagai dukungannya untuk Palestina. Ia bahkan harus tersisih dengan berakhir di posisi terakhir saat Grand Final.

Kompetisi tersebut menuai caci maki di media sosial terlebih ketika Eden Golan, perwakilan dari Israel, lolos ke grand final dengan skor publik tertinggi setelah membawakan lagu Hurricane yang awalnya adalah October Rain dengan perubahan lirik yang menunjukkan pesan politik.

Selain isu politik, Eurovision juga dikenal dengan berbagai kontroversi lainnya. Misalnya, kemenangan kontestan transgender atau penampilan nyentrik dengan mempertahankan kumis dan jenggot yang sering kali memicu perdebatan di kalangan penonton.

Tak hanya itu, Eurovision juga melarang penonton membawa bendera sebagai simbol dukungan terhadap Palestina tetapi memperbolehkan bendera pelangi LGBTQ yang diizinkan untuk dibawa dan dikibarkan oleh penonton. Hal ini menjadikannya dicekal tayang di berbagai negara.

Sederet kontroversi tersebut sangat disayangkan, mengingat Eurovision menjadi ajang kompetisi musik dunia yang dinantikan setiap tahunnya, karena menawarkan platform bagi berbagai budaya dan genre musik untuk bersinar di panggung internasional.

Kompetisi musik tersebut bahkan melahirkan musisi terkenal seperti penyanyi legendaris Celine Dion, hingga grup musik ABBA pada tahun 1980-an.

Dalam hal ini, Anggun menekankan pada masyarakat untuk bisa memisahkan antara apresiasi terhadap seni dan musik dengan pandangan politik.

Halaman:

Tags

Terkini