SketsaNusantara.id - Di kawasan Kecamatan Bandarkedungmulyo, Jombang, Jatim, muncul sebuah fenomena yang cukup menarik. Ada sekitar 200 orang yang lalu lalang di toko milik Ali Mas’ud setiap harinya. Bukan berbelanja, melainkan bertransaksi urusan keuangan.
Padahal, lokasi toko tersebut tidak terlalu jauh dengan kantor bank. Kurang lebih 6 kilo meter dengan jarak tempuh 40 kilo meter per jam. Umumnya, orang akan lebih memilih datang ke bank langsung. Namun, Mas’ud berhasil meraih simpati warga. Layanan yang ramah, tidak selalu mengedepankan profit adalah kunci utama Mas’ud mengelola bisnis jasa sebagai Agen BRILink.
“Kalau mengambil Rp500 ribu tidak saya kenakan biaya, kasihan,” ucap Mas’ud mengawali perbincangan dengan SketsaNusantara.id, awal pekan lalu.
Bagi sebagian masyarakat kampung, pekerja harian atau pedagang kecil, datang ke bank bisa jadi memberatkan. Perlu waktu lama untuk antre, berhadapan dengan satpam, hingga harus menyesuaikan diri dengan jam kerja bank yang terbatas adalah deretan alasan yang menyebabkannya.
Itulah target pasar BRILink yang dikelola Mas’ud. Di agennya, semua kerumitan itu hilang. Warga bisa datang kapan saja dengan pakaian seadanya, transaksipun cukup hitungan menit tanpa harus mengisi formulir sambil berbincang akrab layaknya bertamu ke tetangga.
“Semua layanan perbankan, terutama transaksi keuangan kita kerjakan. Namun, ada juga yang datang untuk pelayanan yang tidak tersedia di sini. Pasti kita arahkan dan kita beri informasi dasar sesuai apa yang dibutuhkan pengunjung. Hal itu agar saat di kantor bank sudah siap apa yang dibutuhkan,”
Sudah menjadi rahasia umum, tarif setiap transaksi di Agen BRILink sekitar Rp5.000. Namun, di Kamajaya, demikian Mas’ud memberi nama agennya, memiliki aturan main tersendiri. Nasabah yang menarik tunai di bawah Rp500.000 tidak dikenakan biaya admin sepeser pun.
Ia merasakan atas kebijakan yang diberlakukannya itu. “Sejak saat itu, pengunjung di sini (BRILink, red) semakin bertambah,” ungkap dia.
Sekilas, kata dia, memang langkah ini justru terlihat membuang kesempatan untuk meraih untung. Namun, justru dengan menggratiskan tersebut pemasaran yang dilakukan terhadap agennya justru berhasil. Pengunjung biasanya bercerita. Dan cerita itu cepat menyebar ke masyarakat,” bebernya.
Kebaikan ini berbuah kesetiaan. Nasabah yang awalnya hanya “numpang” tarik tunai gratis, pada akhirnya akan kembali lagi ke Kamajaya ketika perlu membayar tagihan listrik, membeli token, atau mentransfer uang dalam jumlah besar.
“Bahkan ada yang transfer hingga Rp200 juta. Biasanya setiap hari Sabtu dan Minggu. Awalnya saya heran karena dari Kecamatan Diwek,” tambahnya.
Ditanya terkait jumlah pendapatan, dalam setiap bulan ia menerima hasil dari fee dalam - istilah pembagian dengan BRI -sebanyak Rp 6 juta. “Belum lagi ditambah fee luar. Bisa dihitung sendiri. Kalau dalam sehari jumlah layanan transaksi sebanyak rata-rata,” ucap Mas’ud yang enggan mengatakan langsung hasil penerimaan berish dari jasa layanan keuangan.
Mas’ud mengaku, atas raihan tersebut, ia ditetapkan sebagai Agen BRILink Juragan. Untuk diketahui, level ini merupakan level tertiinggi dalam iinklusi keuangan yang dikelola BRI tersebut.***